Welcome to Defrez's blog, hope you enjoy reading here^^ Abis baca tolong tinggalin jejak dan... ::Jangan lupa mampir lagi yaa... ^_^::
RSS

Friday, February 10, 2012

Cerpen : Love at Smile

Senyum pertama
Aku bertemu dengannya di hari pertamaku menginjakkan kaki di kota Barabai. Sebuah kota kecil di Kalimantan Selatan yang terkenal dengan sebutan kota apam yang merupakan kue khas kota itu. Kota dimana aku menuntut ilmu disebuah Sekolah Menengah Kejuruan dan menghabiskan hampir seluruh waktuku selama 3 tahun dengan tinggal di asrama.

Saat itu aku baru saja turun dari angkutan umum yang telah kutumpangi selama 1/2 jam dari terminal Pantai Hambawang, setelah sebelumnya harus melalui perjalanan yang sangat melelahkan selama +7 jam dari kota asalku di Kalimantan Tengah.

Sesampainya disana aku pun langsung disambut oleh keriuhan terminal dan pasar yang memang terletak berdekatan. Bahkan, suara beberapa abang becak yang sibuk menawarkan tumpangan pun tampaknya tak ingin kalah menambah keriuhan itu. Tampak olehku beberapa pasang mata memandang kearahku dengan tatapan yang aneh. Tapi aku tak perduli, karena aku tahu pasti bahwa dandananku saat itulah yang membuat mereka terheran-heran. Bagaimana tidak, saat itu aku memang masih mengenakan dandanan ala punk-ku yang luar biasa nyentrik dan tak ketinggalan dua tindik perak di alis kiriku itu pun membuat mereka menatapku semakin aneh. Tapi.. aku sadar kemana aku akan datang. Buru-buru aku membeli sebotol air mineral untuk menghapus eye liner dan lipstik hitam yang kupakai dan dengan berat hati tindik itu pun kulepas saat itu juga.

Tak lama kemudian, aku pun memilih sebuah becak untuk mengantarkanku setelah sebelumnya kusebutkan alamat yang ingin kutuju pada tukang becak tua yang sebenarnya sudah tak pantas lagi untuk bekerja itu. Tapi ternyata semangatnya lebih kuat dari usianya. Meskipun aku sempat kasihan saat melihat dia bersusah payah mendorong becak yang kutumpangi saat melewati sebuah jembatan yang sedikit menanjak dan dia juga menolak dengan sopan ketika aku menawarkan diri untuk turun agar dia lebih mudah mendorong becaknya. Selain itu dia juga bisa diajak ngobrol. Sepanjang jalan aku bahkan banyak bertanya dengan tukang becak itu tentang nama tempat yang kami lewati. "Nah itu anak-anak asrama putra dari asrama yang akan kamu datangi itu, Nak" Katanya saat kami melewati segerombolan pemuda bersepeda yang semuanya memakai baju berwarna hitam biru yang belakangan kuketahui adalah baju khas asrama putra. Kulihat salah seorang dari mereka yang duduk diboncengan sepeda sempat melirik kearahku sambil tersenyum. Entah kenapa aku pun membalas senyumnya meski saat itu dia sudah tidak melihat ke arahku lagi.
*****

Tak terasa sudah tiga bulan aku tinggal di asrama. Kini penampilanku sudah berubah total dan jauh lebih manis jika dibandingkan penampilan anehku saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Semua yang kukenakan serba tertutup dan sopan. Bahkan aku juga punya rok untuk kupakai sehari-hari, meskipun seringkali aku masih kesulitan saat memakainya. Harus kuakui, gaya berjalanku memang masih jauh dari yang namanya anggun. Tapi tak apalah, yang penting ada perubahan.

Oh iya, besok bulan ramadhan yang kami nanti-nantikan tiba. Itu artinya, liburan panjang bagi kami seluruh penghuni asrama. Meskipun kami harus melewatkan 10 hari menjalankan ibadah puasa di sana sebelum akhirnya pulang, tapi hal itu tidak membuat kami kecewa. Apalagi sudah tradisi bahwa setiap bulan ramadhan asrama kami selalu mengadakan aktivitas ramadhan yang diisi dengan perlombaan antar asrama putra dan putri, tentu saja aktivitas itu akan jadi hal yang menarik bagi seluruh penghuni asrama. Dan kebetulan aku terpilih sebagai salah satu peserta dalam perlombaan nasyid islami. Tapi tetap saja aku dan teman-teman tak sabar menunggu liburan, apalagi aku yang sudah lama tak pulang.
*****

Senyum Kedua
Hari-hari pun berjalan begitu cepat. Saatnya aku dan kelompok nasyidku tampil. Meskipun pada awalnya sedikit grogi, tapi aku tetap bisa bernyanyi dengan tenang. Karena hari itu aku kembali melihatnya. Sosok yang tak pernah hilang dari pikiranku selama ini. Meski aku sendiri pun bingung kenapa aku masih mengingatnya. Lelaki di boncengan sepeda yang tersenyum padaku 3 bulan yang lalu. Ya, dia ada disudut sana, sedang bersiap-siap untuk tampil bersama kelompoknya. Ternyata dia juga terpilih sebagai peserta nasyid. Dan lagi-lagi dia tersenyum kepadaku persis seperti 3 bulan yang lalu. Aku pun kembali membalas senyumnya sambil terus bernyanyi. Dan kali ini aku yakin dia melihat senyumku.

Sejak saat itu entah kenapa aku merasa senang setiap kali mengingat senyumannya. Senyuman yang yang selalu menginspirasiku untuk menulis puisi dan lagu terindah untuknya, senyuman yang selalu menghiasi mimpi-mimpi indahku, dan senyuman yang selalu membuatku kembali tersenyum di kala aku sedih saat mengingatnya. Pernah suatu ketika kuceritakan pada Fanny yang merupakan sahabat dekatku tentang apa yang tengah kurasakan dan dia menanggapinya dengan mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta. Aku hanya tertawa saat mendengarnya, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada seseorang yang baru tersenyum padaku 2 kali dan namanya saja pun aku tidak tahu.Aneh.
****

Senyum Ketiga
3 tahun telah berlalu dan sekarang saatnya aku pergi meninggalkan asrama. Masih terkenang di memoriku peristiwa 1 tahun silam saat aku kembali melihatnya untuk ketiga dan terakhir kalinya di Perpisahan siswa-siswi kelas akhir yang diadakan di asrama putra-meski aku berharap itu bukan yang terakhir. Saat itu aku melihatnya berada diantara para siswa putra yang akan di wisuda. Namun aku hanya bisa melihatnya sekilas dibalik kesibukanku sebagai bagian panggung, karena memang sudah tugasku sebagai panitia. Sempat kulihat dia kembali tersenyum saat aku lewat tak jauh dari tempatnya berdiri. Tapi sayang, aku terlalu sibuk sampai tak sempat membalas senyumannya.

Setelah acara usai aku pun mencarinya. Berharap dia masih ada dan ingin berkenalan dengannya untuk yang terakhir kali. Meskipun sebenarnya aku telah tahu namanya beberapa bulan yang lalu. Tapi entah kenapa aku masih ingin mendengar langsung dari mulutnya, mendengar dan melihatnya berdiri tepat di depanku sambil berkenalan denganku seperti apa yang selama ini hanya bisa kukhayalkan.
Tapi sayang, dia sudah tak ada. Dia sudah pergi. Aku hanya bisa tertunduk sedih saat menyadari apa yang sudah terjadi. Tanpa sadar aku berkata lirih hampir tak bersuara, Kenapa kamu pergi..aku belum sempat bilang kan, kalo aku suka kamu..

Dan sejak saat itulah, aku tak pernah melihatnya lagi.
*****

Hidupku berjalan seperti biasa setelah aku lulus. Aktivitasku pun masih sama seperti disana, mungkin karena aku sudah terbiasa melakukannya. Tapi suatu hari semua itu berubah saat aku melihat sesuatu melalui akun facebookku yang membuat hati dan perasaan indah yang kurasakan selama ini hancur seketika. Perasaan yang sejak dulu tersimpan rapat dihatiku itu, kini berbalik menusukku dari dalam saat aku tahu bahwa dia sudah dimiliki orang lain. Aku hanya bisa menangis tanpa airmata yang memang tak pernah ingin kukeluarkan, meski sejujurnya aku ingin menangis sekeras mungkin agar dia tahu betapa sakitnya hatiku karenanya. Sakit karena rasa yang kumiliki, rasa bodoh yang tak layak kuungkapkan. Bahkan sejak awal aku memang mengganggapnya sebagai perasaan terkonyol. bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya tersenyum 3 kali kepadaku selama 2 tahun! bahkan kami tak pernah berkenalan sama sekali. Aku marah bercampur kecewa, berbagai cara kulakukan untuk melupakannya. Tapi tetap saja gagal. Aku terlalu sulit melupakannya. Apalagi saat melihat diriku di cermin. Sosok diriku yang telah "berubah" itu terus mengingatkanku pada semua hal tentang asrama dan pertemuanku dengannya. Mungkin aku harus kembali seperti dulu agar aku bisa melupakannya .

Sejak saat itu sedikit demi sedikit aku mulai kembali seperti dulu. Kembali ke duniaku yang gelap dan kaku bersama teman-teman lamaku yang ternyata tak pernah berubah bahkan cenderung lebih parah. Dunia yang telah membuatku dikeluarkan dari SMA dulu. Dunia yang dulu membuat kedua orangtuaku terpaksa mengirimku ke asrama. Dunia yang sebenarnya sudah benar-benar kutinggalkan, bahkan aku telah bersumpah untuk meninggalkannya seumur hidupku. Tapi ternyata aku menghianati sumpahku sendiri hanya untuk melupakan sebuah rasa. Parahnya, aku pun mulai berkenalan dengan kokain dan Sabu-sabu yang biasa kusebut ice cream melalui teman lamaku yang memang seorang junkies. Ya, benda-benda itulah yang membuatku bisa melupakan beban di kepalaku saat kuhirup melalui rongga hidungku dan kualirkan melalui pembuluh darahku. Semua itu membuatku tenang meski aku tak bisa kembali tersenyum seperti dulu.
****

Malam itu aku masih terbaring lemah di rumah sakit setelah melawati masa kritis karena overdosis yang hampir saja merenggut nyawaku. Untung saja aku sempat dilarikan ke rumah sakit. Kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah berada di neraka karena ketololanku ini. Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf pada ibu dan ayah yang dengan suara lirih saat aku sadar keesokan harinya. Kulihat airmata terus menetes di sudut mata ibu. Aku tahu mereka sangat kecewa dengan apa yang telah ku perbuat, tapi dengan tulus mereka masih memaafkanku. Sekali lagi aku menyesali ketololanku. Aku tak habis pikir kenapa aku bisa bertindak setolol ini. Hanya karena sebuah rasa. Memalukan!
*****

Setelah beberapa hari dirawat, hari ini aku sudah diperbolehkan dokter untuk meninggalkan rumah sakit untuk selanjutnya kembali melanjutkan pemulihan ke pusat rehabilitasi di Jakarta berdasarkan saran dari pamanku yang kebetulan tinggal disana.

Saat melangkah keluar rumah sakit, dalam hati aku bersumpah untuk mengucapkan selamat tinggal pada semua kebodohan yang telah kulakukan. Aku benar-benar menyesal.

*****
19 Januari 2012 (Senyum untuk Selamanya)
Setelah berbulan-bulan tinggal, saatnya aku meninggalkan pusat rehabilitasi. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu keluarga. Terima kasih ya Kek atas bantuannya selama ini. Kataku pada Pak Mulyo, salah satu petugas di pusat rehabilitasiku. Kulihat pria tua itu tersenyum melihatku sehingga membuatku teringat dengan almarhum kakek yang sangat kusayangi. Ya, Kek Mul, begitu dia biasa kupanggil. Selama aku tinggal disini dia sudah kuanggap seperti kakekku sendiri, begitu pula aku yang juga sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri. Kek Mul sudah tinggal disini sejak usianya masih 30 tahun dan sekarang dia sudah berusia 55 tahun. Narkoba jualah yang telah mengirimnya kesini, sama sepertiku. Sampai akhirnya dia pun memilih untuk tinggal dan bekerja disini. Sama-sama, Nak. Kamu baik-baik ya diluar sana. Ingat semua nasihat dan pesan kakek,ya . Katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.

Iya kek. Aku pulang,ya. Aku janji bakalan sering-sering nelpon kesini. Assalamua alaikum

Wa alaikumsalam

Nak..! Tiba-tiba Kek Mul Memanggilku.

Kenapa Kek? Tanyaku heran.

Kamu kenapa pulang sendiri? Bukannya kamu dijemput.

Dijemput?

Iya. Mereka sudah menunggu kamu sejak tadi pagi di ruang tunggu. Memangnya kamu tidak tahu?

Nggak kek Aku menggeleng.

Ooh.. Rere pasti lupa memberitahumu. Tadi bapak yang nyuruh dia buat nyampein ke kamu. Ternyata penyakit lupanya masih,ya Kata Kek Mul sambil terkekeh. Dia paham betul bahwa Rere yang juga merupakan teman senasibku itu memang pelupa berat.

Emangnya siapa yang jemput aku, Kek? Ibu sama ayah kan sudah ngabarin kalo hari ini ada acara keluarga, jadi nggak bisa jemput.

Katanya sih temen kamu dari Kalimantan. Ya sudah, ayo kita ke ruang tamu. Ajak kakek.

Aku pun mengikutinya dengan hati yang penasaran.
****

Betapa terkejutnya aku saat tiba di ruang tamu. Disana telah duduk dua sosok yang sangat ku kenal. Dia adalah Fanny dan laki-laki itu. Ya, dia. Laki-laki itu ada disana. Wajahnya masih sama seperti dulu dan tampaknya dia tak kalah terkejutnya melihat kedatanganku.

Kamu? Seruku. Dia tidak menjawab, tapi bergerak maju dan mendekat ke arahku. Perlahan-lahan dia pun meraih tangan kananku dan menggenggamnya.

Iya, Ini aku.

Ke..

Karena aku ingin menjemput senyuman itu. Potongnya sebelum aku sempat menyelesaikan pertanyaanku

Maksud kamu?

Iya. Senyuman gadis didalam becak 3 tahun yang lalu. Ingat, kan?

Aku tersentak mendengarnya. Bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya.

Ya, aku ingat jawabku pelan.

Tiba-tiba saja dia melepaskan tangannya dari tanganku dan langsung memelukku dengan erat, Maafkan aku. . Aku yang salah. Seharusnya aku tak perlu tahu perasaanmu sebelum mengatakannya. Aku ini memang terlalu pengecut. Ucapnya.

Kukira mencintai seorang gadis yang hanya membalas senyumku 2 kali adalah suatu kekonyolan hingga aku tak pernah bisa mengatakannya. Hingga aku mencoba untuk mencari hati yang lain. Tapi aku benar-benar tak bisa melupakannya. Rasa itu memang benar-benar nyata. Akulah yang terlambat menyadarinya. Seharusnya aku sudah mengatakannya sejak aku menyadarinya. Tapi aku terlalu takut kalau ini hanyalah sebuah rasa yang timpang. Aku takut kamu tidak punya perasaan yang sama. Kalau saja Fanny tidak menceritakan semuanya, mungkin aku tidak disini sekarang

Perlahan kulepaskan pelukannya. Kulihat kearah Fanny, sahabatku itu tersenyum manis kearahku. Tak terasa airmata mengalir pelan disudut mataku. Aku benar-benar terharu. Tak kusangka bahwa rasa ini ternyata sama. Rasa ini sama sekali bukan rasa yang timpang. Aku pun kembali memeluk lelaki itu, bahkan kali ini lebih erat dari saat dia memelukku tadi.
 
Oh iya, kita kan belum kenalan. Katanya tiba-tiba.

Namaku Bastian Nugroho.. Kamu?

Fhellisya Veronica. Sahutku.

Tiba-tiba dia melepas pelukannya.

Ups.. Kita kan bukan muhrim..

Eh iya, ya& aduhh&

Kami berdua pun sama-sama garuk-garuk kepala dan salah tingkah.

Tapi& semoga jadi halal nantinya& Suara Kek Mul mengejutkan kami berdua. Kontan saja pipiku bersemu merah karena malu. Begitu juga dengan Bastian. Dan akhirnya kami berempat pun tertawa bersama.

Siang itu aku pun bisa tersenyum kembali. Ternyata ini bukan rasa terkonyol seperti apa yang selama ini kupikirkan. Tapi ini adalah rasa terindah yang pernah kumiliki. Ya, cinta itu memang sederhana, bahkan aku pun tak pernah menyangka bisa mencintai seseorang hanya karena senyuman. Dan kini, senyum itu pun akan kumiliki selamanya ^_^

*Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian itu hanya kebetulan semata hehee& ^_^

0 komentar:

Post a Comment

^_^