"Aku Asya Magdalena dan Aku tidak percaya hantu"
Kata-kata itulah yang selalu ku katakan setiap aku menemui kejanggalan yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dimanapun aku berada. Entah itu dalam bentuk suara, poltergeist, atau apapun itu, jangan harap aku akan percaya. Bukannya aku sok berani, tapi sejak dulu aku memang tidak pernah bisa mempercayai hal apapun yg tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Bahkan saat salah satu siswi di kampusku kesurupan hingga membuat seisi kampus gempar dibuatnya karena tiba-tiba saja dia berlari mengejar Aldi sahabatku sambil bertingkah dan mengeluarkan suara seperti harimau yang siap untuk menerkam mangsanya. Beruntung Aldi yang saat itu tidak tahu kalau nyawanya sedang terancam tanpa disadarinya telah menyelamatkan dirinya sendiri. Karena tepat saat mahasiswi itu melompat untuk menerjang ke arahnya, Aldi malah berjongkok untuk memperbaiki tali sepatunya yang lepas. Sudah bisa ditebak, mahasiswi itu pun jatuh dengan wajah membentur lantai dan pingsan seketika. Semua yg menyaksikan hal itu pun bernapas lega, hanya Aldi yg sempat kebingungan sampai akhirnya diapun mengangguk-angguk mengerti saat salah seorang mahasiswa menjelaskan padanya apa yang baru saja terjadi. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba seorang mahasiswi lain kembali bertingkah serupa dengan mahasiswi sebelumnya. Aldi yang saat itu sudah menyadari bahaya yang mengincarnya langsung berlari seperti copet yang dikejar massa, dalam pikirannya saat itu cuma satu, "yang penting selamat".
Akhirnya setelah satu jam adegan kejar-kejaran itu berlangsung, paranormal dengan gaya super nyentrik berambut panjang gimbal dan berdandan ala koboi dengan pakaian serba hitam tapi malah bawa-bawa bola basket yg ga tau buat apa itu pun datang karena dipanggil oleh -aku juga tidak tahu siapa- dan membuat keadaan kembali normal. Setelah itu dia pun menjelaskan kalo ternyata kedua cewek itu kerasukan siluman harimau yang tinggal di sekitar kampus. Siluman itu marah karena Aldi secara tidak sengaja telah mengambil barang miliknya. Aldi hanya bisa mengangguk lemas mendengarnya, dalam hati ia dia juga bingung, "Gue ngambil apaan, ya? Lupa gue". Sedangkan aku hanya menunjukkan ekspresiku yg kaku seperti biasa setelah mendengar cerita Aldi dua hari setelah kejadian, karena kebetulan aku baru saja kembali setelah menghadiri acara keluarga di Bandung.
"ah, paling dua cewek itu cuma kesal sama lo yg playboy kelas topeng monyet itu. lagian mereka berdua kan mantan lo. Bisa aja kan mereka janjian buat ngerjain lo. makanya.. insyaf deh jd playboy".
"Pletak...!!" bukannya berterimakasih sudah diingatkan, Aldi malah memberi jitakan tepat di jidat ku Sambil berkata, "Lo tuh yang cap topeng monyet..Nggak da ya cap yg lebih baik dari pada itu, dasar!"
"Nggak ada... blee:P Hahahahaahaahaahaaa..."
"Grrrrrr..... dasar!! gue do'ain lo ketemu setan ntar"
Seperti biasa, aku cuma bisa tertawa geli melihat sahabatku itu marah.
Karena saat dia marah, wajah tampannya yg membuat hampir seluruh gadis di kampus terpesona saat melihatnya itu berubah jd menggelikan dengan tampilan bibir manyun+cemberutnya.
To be Continue...




0 komentar:
Post a Comment
^_^