"Sya.. Asya....!!!" Samar-samar kudengar sebuah suara memanggilku dan suara itu semakin kencang terdengar saat kesadaranku berangsur-angsur pulih.
"Jangan..! Jangan mendekat..! hantu.. jangan.." Teriakku sambil menutup wajahku dengan tangan.
"Sya, lo kenapa? gue Aldi, Sya.. Lo baik-baik aja kan?"
"Bukan.. lo pasti bukan Aldi.. pergi.. pergi !" Aku semakin histeris.
"Sadar, Sya! Gue beneran Aldi. Lo kenapa?" Katanya sambil menggoncang kedua bahuku. Dan satu hal yang membuatku menurunkan tangan dari wajahku, tangan ini tidak dingin.
"Aldi..?"
"Ya, Sya. Gue Aldi"
Tanpa pikir panjang aku pun menghambur ke pelukan Aldi dan langsung menangis. Aldi yang tampaknya sangat prihatin hanya bisa menepuk-nepuk bahuku berusaha untuk menenangkan.
****
Pikiranku sedang kacau. Aku berlari menaiki tangga menuju atap. Tapi disana aku mendapati seseorang sedang duduk di pagar pembatas. Harusnya aku kembali ke bawah, toh apa gunanya mencari ketenangan disini. Aku butuh tempat lain yang tidak ada satu pun orang disana, tapi entah kenapa aku tertarik untuk memperhatikan orang itu. Dia duduk disana dengan tenang, kemudian dia berbalik untuk turun. Namun sialnya kaki kirinya salah menginjak dan dia terjatuh tanpa aku sempat menolongnya. Aku berlari ke bawah. Aku melihat kerumunan orang. Dan aku melihatnya, seorang lelaki dengan kepala bersimbah darah.. dan wajahnya..
"Aaaa..!!!" Aku berteriak histeris sehingga membuat Aldi yang tertidur di samping ranjangku pun ikut terbangun.
"Sya! Lo kenapa?" Tanya Aldi sambil melihat ke arahku dengan khawatir. Ku pandangi wajahnya sesaat dan aku pun menarik napas lega "Ternyata cuma mimpi" Batinku.
"Sya, lo nggak papa kan?" Tanya Aldi lagi.
"ng..nggak. Gue.."
"Lo kenapa?"
"Gu.. gue takut, Al.." Jawabku terbata-bata.
Mendengar itu, Aldi kemudian duduk disebelahku, menyandarkan kepalaku di dadanya dan memelukku, "Tenang, Sya. Lo bakal baik aja.."




0 komentar:
Post a Comment
^_^