Welcome to Defrez's blog, hope you enjoy reading here^^ Abis baca tolong tinggalin jejak dan... ::Jangan lupa mampir lagi yaa... ^_^::
RSS

Sunday, February 19, 2012

Surat Untuk Nurani














Ketidakadilan itu kejam...

Dia merubah angin yang berhembus lembut menjadi puting beliung yang menghancurkan

Harapan yang pupus...

Senyum yang hilang...

Airmata yang jatuh...

Jiwa yang terpenjara...

Itu semua karenanya
            *****



Yang selalu kurindukan, Nurani...

Apa kabar..? Semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan...

Kenalkan, aku Defrez. Aku adalah satu dari sekian banyak hati yang memilikimu dan selalu mengharapkanmu untuk hadir di setiap waktuku. Dan bukan itu saja, aku bahkan sangat mengharapkanmu selalu hadir disemua hati yang memilikimu. Mau kan...? Mau, ya... ^_^ Soalnya, aku akan sangat sedih kalau kamu tidak mau.
Pasti kamu bingung kan kenapa aku sedih? Jadi, kuharap kamu berkenan untuk membaca cerita ku ini..

Aku adalah seseorang yang terlahir di sebuah negara. Negara yang sangat kaya akan sumber daya alam dan budaya yang beraneka ragam. Sampai-sampai ada seniman yang menciptakan lirik lagu seperti ini di negaraku, "Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.".  Hebat kan! Aku tinggal di tanah surga! he..he..he.. tentu saja tak mungkin jika tongkat kayu dan batu jadi tanaman, seniman itu hanya bermajas untuk mengapresiasikan keindahan negaraku. Selain itu negaraku ini juga punya 5 asas/prinsip yang hebat, Yaitu : ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan (nama negaraku), kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat (nama negaraku). Dan juga ada Undang-undang yang mengatur kehidupan kami berdasarkan 5 prinsip diatas.  Coba kamu perhatikan sekali lagi, kata adil disebutkan sampai 2 kali disana. Apalagi peraturannya, sudah pasti banyak keadilan disana. Hebat! . Menyenangkan sekali bukan! Seandainya kamu manusia, mungkin kamu akan tertarik untuk tinggal disini, Nurani.

Tapi... Sayangnya sekarang semua itu tak ubahnya sebuah dongeng, Nurani. Keadilan itu sudah menjadi barang langka disini. Hanya ada dalam buku-buku dan kata-kata, tapi jarang terealisasi dengan sempurna. Terlalu banyak "permainan hebat" yang dilakukan oleh yang kuat sehingga membuat yang lemah menderita karenanya. Sepertinya banyak hati yang  telah lupa bahwa dia memilikimu, Nurani. Entah apa yang mereka pikirkan. Aku juga tak tahu.


Aku sangat prihatin dengan semua ini, Nurani. Tapi sungguh disayangkan, aku hanyalah satu dari sekian banyak hati yang berempati tapi tak punya kaki untuk melangkah. Karena itulah aku sangat mengharapkan kehadiranmu Nurani.


Mungkin itu saja surat dariku Nurani. Kuharap kamu segera membalasnya karena tentu saja aku tak sabar menunggunya ^_^

Salam Rindu              


Defrez                   

Saturday, February 11, 2012

Ghost # Part 8

"Busyett.. ada yang lge mojok ni yee" Aku dan Nathan dikejutkan oleh Aldi yang tiba-tiba datang.

"Sembarangan. Lo nggak liat apa kalo kantin penuh, makanya gue duduk disini" Aku membela diri.

"hehee.. nggak usah pake sewot gitu deh, gue cuma bercanda kok. Lo ju.. " Aldi menghentikan ucapannya sambil melotot ke arah dimana aku duduk.

"Woy! kenapa lo, Al?" Kataku sambil menepuk pundaknya.

"Wah! Nekat lo ya! Kok lo duduk disitu sih? Jangan bilang kalo lo juga nggak tau.."

"Emang gue baru aja tau. Itu juga Nathan yang ngasih tau" Sahutku sambil menoleh ke arah Nathan, Lelaki itu mengangguk mengiyakan.

"Wah bahaya, mendingan kita pulang yo! Gue tadi kesini pengen beli minuman sekalian jemput lo"

"Ooh ya udah deh, yuk. Nath.. gue duluan ya" Pamitku.

"Iya.." Sahut Nathan.

Aku dan Aldi pun berjalan beriringan menuju parkiran. Ketika sudah berada di halaman depan, aku melihat lagi ke arah atap. Dan alangkah terkejutnya aku, ada seseorang disana! sedang duduk di pagar pembatas. Aku menggigil ketakutan, kakiku terasa lemas, dan tiba-tiba semua berubah gelap.

****

Aku terbangun, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 5 sore. "Lagi-lagi aku pingsan" Pikirku. Kupegang Kepalaku yg masih terasa sedikit sakit karena terbentur saat pingsan tadi. Sepertinya Aldi membawaku ke rs lagi, dan kulihat Aldi sedang tertidur dengan posisi duduk sambil menumpukan kepalanya di sisi ranjangku. Tapi.. Kenapa dia berkacamata.. bukankah Aldi tidak berkacamata. Tiba-tiba laki-laki itu bergerak, sehingga wajahnya terlihat jelas olehku. Olalaa.. Dia Nathan, yang tadi siang bertemu denganku di kantin. "Kenapa dia ada disini?" Batinku. Aku menarik pelan tangan kananku yang tertindih kepalanya. Tapi sialnya dia malah terbangun.

"Eh.. Lo udah bangun ya, Sya. Sorry, gue ketiduran" Katanya agak salah tingkah.

"Nggak papa.. kok lo ada disini? Aldi mana?" Tanyaku.

"Tadi kebetulan gue juga keluar pengen pulang dan ngeliat lo yang pingsan, Makanya gue nolongin lo dan bantuin Aldi ngebawa lo ke rs. Kalo Aldi, tadi dia minta gue jagain lo. Katanya dia mau pulang, mungkin sebentar lagi balik"

"Ooh gitu. Thanks ya"

"Sama-sama" Sahut Nathan sambil tersenyum.

"Kebetulan yg menyenangkan" Pikirku.
Sebelumnya aku sudah sering mendengar nama Nathan disebut-sebut oleh hampir semua mahasiswi di kampus, meskipun sepertinya setara dengan nama sahabatku, Aldi si playboy cap topeng monyet yang juga sering jadi bahan omongan karena pesonanya. Tapi baru hari ini aku melihatnya langsung, dari dekat malah.
Lelaki berkacamata dengan wajah indonya yang tampan dan kulit putihnya. Dan satu hal lagi yang membuat jantungku deg-degan, dia ada disini sedang menjagaku.

Ghost # Part 7

"yeah.. akhirnya gue bisa menghirup udara kampus lagi..!" Seruku saat keluar dari mobil Aldi di parkiran kampus.

"Kaya udara kampus beda aja sama udara di tempat lain, sama aja kali." Komentar Aldi.

"hee.." Aku hanya membalas komentarnya dengan nyengir.

Hari ini aku kembali masuk kuliah setelah 2 hari masuk rs. Lagipula aku sudah merasa sangat sehat. Hanya saja aku masih agak khawatir tentang "itu". Bahkan sebelum memasuki pintu depan kampus, aku sempat melihat ke arah atap. Tapi tidak ada apa-apa disana. Mungkin kejadian beberapa hari yang lalu itu cuma halusinasiku saja, akibat kalaborasi rasa marah dan rasa lelah yang ku
alami. Aku pun tersenyum lega.

****

"Al, gue nebeng lo lagi, ya" Pintaku pada Aldi yang kutemui di koridor setelah kelas bubar.

"Ngg.. boleh sih.. tapi gue mau maen basket dulu, Sya. Udah janji sama temen-temen soalnya"

"Ya udah, gue tungguin di kantin kampus ya. Males gue naik taksi, ntar ketemu Sopir nyentrik itu lagi, bisa darah tinggi gue"

"Hahaaa.. ya udah, ntar kalo udah selese gue sms" Aldi pun beranjak pergi.

Aku pun berjalan menuju kantin. Sesampainya disana, ku lihat suasana tampak sedikit ramai. Wajar saja, karena sekarang sudah waktunya makan siang. Aku terbiasa makan siang disini, karena biasanya setelah itu aku ada kelas lagi. Berhubung hari ini ada dosen yang berhalangan, jadi kelas bubar. Untung saja masih ada satu kursi kosong di pojokan.

"Permisi.. gue boleh kan duduk disini?" Tanyaku pada cowok yang duduk disebelah kursi kosong itu. Tapi lelaki itu tak menjawab, dia malah memandang ke arahku dengan aneh.

"Eh.. kok lo malah ngeliatin gue kaya gitu?" Tanyaku heran.

"Emangnya lo nggak tau,ya? Kursi itu kan nggak boleh didudukin. Tepatnya, nggak ada yang berani duduk disana"

"Ooh.. kalo gitu gue yang berani.

"Ja.." Lelaki itu terlambat mencegahku, kini aku sudah duduk di kursi itu.

"Nggak terjadi apa-apa kok. Emangnya ini kursi siapa?"

"Lo beneran nggak tau?" Lelaki itu malah balik bertanya padaku dengan ekspresi heran.

"Beneran.." Aku meyakinkan.

Sesaat lelaki itu tampak ragu, lalu dia mulai bercerita dengan suara pelan "Ini kursi tempat mahasiswa yang bunuh diri dengan terjun dari atap gedung kampus ini sering duduk 10 tahun yang lalu. Katanya sering ada kejadian aneh yang dialami orang-orang yang nekat duduk disini. Bahkan tiap kali dibuang, kursi ini tetap aja balik lagi"

Seketika bulu kudukku pun merinding setelah mendengar ceritanya.  "Yah, semoga saja tidak terjadi apa-apa..". Aku berusaha menenangkan diri sendiri.

"Ya, semoga saja. Btw kenalin, nama gue Nathan. Lo?"

"Gue Asya..."

Jadilah, siang itu akupun makan siang bersama Nathan, lelaki yang ternyata satu jurusan dengan Aldi  itu lumayan menyenangkan. Apalagi wajahnya itu, hmmm.. sangat menmyenangkan untuk dilihat.

Ghost # Part 6

"Oh gitu ya ceritanya.." Kata Aldi setelah aku mengakhiri ceritaku.

"Emangnya lo nggak tau ya?" Sambungnya lagi..

"Ngga tau apa?" Tanyaku heran.

"Disitu kan memang angker. Katanya disana pernah ada yang meninggal bunuh diri"
"Tapi di mimpi gue orang itu kan.."

"Itu kan cuma mimpi, Sya" Potong Aldi.

"Tap.."

Aldi meletakkan telunjuknya tangan kanannya di bibirku. "Cuma mimpi, Sya." Katanya sambil menepuk bahuku dengan tangan kirinya.

"Ehm.." Sebuah suara mengejutkan kami berdua sehingga Aldi buru-buru menurunkan tangannya.

"Eh lo, Nin.. Baru datang?" Sapaku. Ternyata yang datang adalah Nindy, teman akrabku di kampus.

"Udah dari beberapa menit yang lalu nich.. ceilee.. mesranya, suit..suit.." Kata Nindy menggoda. Seketika wajah kami berdua berubah merah.

"Yee.. jangan mikir macam-macam deh. Ini nggak kaya yang lo pikirin kok" Aku membela diri.

"Iya" Timpal Aldi.

"Emangnya gue mikir apaan coba?" Kata Nindy lagi sambil nyengir usil. Kontan saja wajah kami semakin memerah.

"Hahahahahahaaa.. sampai merah gitu mukanya..." Tawa Nindy pun pecah melihat ekspresi kami.

"Oh iya.. gimana keadaan lo, Sya? Sorry gue baru datang. Gue baru tau pas kuliah udah bubar. Kata temen-temen yang lain lo pingsan di atap dan dibawa ke rs." Sambungnya lagi.

"Nggak papa kok. Gue udah baikan juga. Cuma sedikit demam"

"Ceilee.. Aldi perhatian bener, demam aja pake dibawa ke rumah sakit. Mending di kompres aja pake es batu di rumah"

"Yee.. dia kan pingsan. Siapa tau kenapa-kenapa. Sebagai sahabat yang baik, gue bawa ke rs aja lah"

"Sahabat atau sahabat..?" Goda Nindy.

Pletakk..
Dengan sukses Aldi berhasil mendaratkan jitakannya di jidat Nindy.

"Aduhh.. sakit tau" Kata Nindy sambil mengelus-elus jidatnya.

"Rasain lo.. siapa suruh ngomong ngawur. blee.." Aldi menjulurkan lidahnya.

Nindy sudah bersiap untuk membalas kalo saja aku tidak bersuara, "Udah. Udah.. Jangan kaya anjing sama kucing gitu deh" Leraiku.

"Huh.." Kata mereka berdua kompak sambil berbalik saling membelakangi. Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua. Karena sejak pertama kali ketemu saat masih sama-sama maba di kampus, Aldi dan Nindy udah nggak akur. Gara-garanya sepele, Nindy nggak sengaja nabrak Aldi sehingga membuat gelas yang sedang dipegang Aldi jatuh dan kacang polong yang ada di dalamnya berhamburan kemana-mana. Padahal kacang itu merupakan tugas yang diberikan buat ospek hari itu. Bukan main marahnya Aldi yang tanpa basa-basi langsung menjitak kepala Nindy. Sedangkan Nindy yang nggak terima kepalanya dijitak, bukannya merasa bersalah malah balas menjitak. Sejak saat itulah, Aku sering sekali melihat adegan jitak-jitakan itu, bahkan hingga hari ini.

"Ooh iya, Sya. Ni gue bawain buah-buahan.. dimakan yah"

"Thanks, Nin"

"Sama-sama. Ngg.. sorry banget yah nggak bisa lama-lama, gue harus buru-buru cabut. Gue ada janji sama bu Berthy, dosen kita yang super killer itu. Bisa berabe kalo gue telat"

"Ooh.. nggak papa kok, sampein salam gue ke Bu Berthy,ya" Kataku.

"Ya.. bye.." Nindy pun pergi meninggalkan aku dan Aldi.

"Oh iya, kok gue bisa pingsan lagi sih waktu itu?" Tanyaku ke Aldi.

"Waktu itu lo kan nangis sambil meluk gue. Eh nggak berapa lama tiba-tiba diam. Pas gue liat lo pingsan, trus badan lo panas banget. Cepet-cepet deh gue bawa ke rs"

"Oh gitu.. thanks ya, Al. Gue nggak bisa bayangin apa yang bakal terjadi kalo lo nggak datang waktu itu"

"Sama-sama. Gue kan sahabat lo, jadi udah tugas gue buat nolongin lo" Kata Aldi tulus.

Aku tersenyum mendengarnya. Itulah Aldi, meskipun kadang menjengkelkan, tapi dia tetap sahabatku yang paling baik. Beberapa orang mungkin mengira kami bukan hanya sekedar teman karena kami hampir selalu jalan bareng. Bahkan beberapa diantara pacarnya pernah melabrakku karena cemburu. Tapi apa mau dikata, kami hanya sahabat. ya.. hanya sahabat.

Ghost # Part 5

"Sya.. Asya....!!!" Samar-samar kudengar sebuah suara memanggilku dan suara itu semakin kencang terdengar saat kesadaranku berangsur-angsur pulih.

"Jangan..! Jangan mendekat..! hantu.. jangan.." Teriakku sambil menutup wajahku dengan tangan.

"Sya, lo kenapa? gue Aldi, Sya.. Lo baik-baik aja kan?"

"Bukan.. lo pasti bukan Aldi.. pergi.. pergi !" Aku semakin histeris.

"Sadar, Sya! Gue beneran Aldi. Lo kenapa?" Katanya sambil menggoncang kedua bahuku. Dan satu hal yang membuatku menurunkan tangan dari wajahku, tangan ini tidak dingin.

"Aldi..?"

"Ya, Sya. Gue Aldi"

Tanpa pikir panjang aku pun menghambur ke pelukan Aldi dan langsung menangis. Aldi yang tampaknya sangat prihatin hanya bisa menepuk-nepuk bahuku berusaha untuk menenangkan.

****

Pikiranku sedang kacau. Aku berlari menaiki tangga menuju atap. Tapi disana aku mendapati seseorang sedang duduk di pagar pembatas. Harusnya aku kembali ke bawah, toh apa gunanya mencari ketenangan disini. Aku butuh tempat lain yang tidak ada satu pun orang disana, tapi entah kenapa aku tertarik untuk memperhatikan orang itu. Dia duduk disana dengan tenang, kemudian dia berbalik untuk turun. Namun sialnya kaki kirinya salah menginjak dan dia terjatuh tanpa aku sempat menolongnya. Aku berlari ke bawah. Aku melihat kerumunan orang. Dan aku melihatnya, seorang lelaki dengan kepala bersimbah darah.. dan wajahnya..

"Aaaa..!!!" Aku berteriak histeris sehingga membuat Aldi yang tertidur di samping ranjangku pun ikut terbangun.

"Sya! Lo kenapa?" Tanya Aldi sambil melihat ke arahku dengan khawatir. Ku pandangi wajahnya sesaat dan aku pun menarik napas lega "Ternyata cuma mimpi" Batinku.

"Sya, lo nggak papa kan?" Tanya Aldi lagi.

"ng..nggak. Gue.."

"Lo kenapa?"

"Gu.. gue takut, Al.." Jawabku terbata-bata.

Mendengar itu, Aldi kemudian duduk disebelahku, menyandarkan kepalaku di dadanya dan memelukku, "Tenang, Sya. Lo bakal baik aja.."

Ghost # Part 4

"Si..siapa lo?" Aku bertanya padanya dengan suara gemetar. Meski sebenarnya aku ingin berteriak sekeras mungkin, tapi entah kenapa malah pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.

"Gue.."

"Jangan bilang kalo lo hantu ya!" Potongku. "Karena Gue nggak percaya hantu" Kata ku tegas. seketika rasa takutku lenyap  setelah mengucapkan kata-kata itu. Lagipula aku sempat berpikir, mungkin saja tadi aku cuma salah liat saat ingin berjabat tangan dengannya. Aku kan masih deg-degan karena hampir jatuh, jadi konsentrasi dan pikiranku jadi jelek.

Tapi anehnya, bukannya menjawab, cowok itu malah memandang ke arahku dengan tatapan yang tak bisa ku mengerti. Kemudian dia pun berbalik membelakangiku.

"Hei.. lo kan belum jawab pertanyaan gue!"

"Tanpa gue jawab lo juga udah tau kan gue siapa.." Jawabnya dengan posisi masih membelakangiku.

"Maksud lo?"

"Ya, Gue emang hantu" Jawabnya datar.

"Hahahahaa.. jangan bercanda deh" Kataku sambil berjalan cepat ke arahnya. Sialnya disaat yang bersamaan aku malah tersandung tasku hinggu membuatku oleng dan dalam 2 detik aku akan terjatuh menimpanya dari belakang.

Tapi aku tak menimpanya! Tepatnya, aku telah menembusnya dan nyaris saja aku jatuh tersungkur tepat di depannya kalo saja cowok itu tak menahan pinggangku dalam posisi sebagian kakiku masih berada dibelakangnya.
"Nggak mungkin.." Desisku. Detik berikutnya semua berubah gelap.

****

Di tempat lain, Aldi yang sedang sibuk mencariku

"Bim, lo liat Asya nggak?" Tanya Aldi pada salah seorang temannya yang sedang duduk di anak tangga lantai tiga yang menuju ke lantai empat.

"Tadi sih dia lewat sini sambil lari-lari, coba lo cari diatas. Kalo nggak ada, mungkin dilantai lima"

"Oke. Thanks" Aldi pun bergegas menaiki tangga.

Namun setelah menanyai beberapa orang dilantai empat, Aldi pun mendapat jawaban yang sama dengan sebelumnya, begitu pula saat dia berada di lantai lima. "Berarti tinggal atap" pikirnya, maka pelan-pelan Aldi pun menaiki satu demi satu anak tangga menuju atap.

Ghost # Part 3

"Aldi..!!" Teriakku saat menemukan Aldi yang baru saja keluar dari toilet cowok.

"Pantas gue cari kemana-mana nggak ketemu, ternyata sekarang tongkrongan lo dI toilet ya!" Kataku sewot.

"Ya nggak lah, Sya. Tadi gue kebelet boker hehee.."

"Ha ha he he aja bisanya lo. Dasar gaje!" Setelah itu, aku pun langsung meninggalkan Aldi yang menunjukkan ekspresi kaget dengan sikapku barusan. Lagian aku sadar bahwa di depan pintu toilet bukan tempat yang wajar buat ngomel-ngomel.

Aku terus berjalan menuju atap kampus. Aku butuh ketenangan untuk mendamaikan perasaan kesalku. Dan sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, menurutku hanya tempat itulah yang jauh dari keramaian.

Sesampainya disana aku langsung naik ke pagar pembatas atap, aku ingin merasakan kembali angin yang bertiup lembut setiap kali aku duduk disana disaat aku sedang butuh ketenangan seperti sekarang ini. Maka, pelan-pelan aku pun naik dan duduk disana. Seketika kurasakan kedamaian saat kututup mataku sambil menikmati setiap sentuhan angin yang menerpaku.

Cukup lama aku duduk disana sampai akhirnya aku pun kembali membuka mata dan memutuskan untuk turun. Tapi sialnya kaki kiriku salah menginjak dan...
"Aaaa. . .!!!!!"






******

Tubuhku terasa sangat lemas. Perlahan-lahan ku buka mataku yang sejak tadi ku pejamkan karena terlalu takut mengetahui apa yang telah terjadi. Dan aku pun mendapati diriku tengah terbaring tepat di lantai sebelah pagar pembatas atap tempat dimana aku duduk tadi. Kulihat tak jauh dari tempatku berbaring, seorang lelaki dengan wajah pucat sedang mengamatiku dengan ekspresi khawatir. Seingatku, aku tidak pernah melihat lelaki ini sebelumnya. "Apakah dia yang telah menolongku?" Tanyaku dalam hati. Aku baru ingat bahwa hampir saja aku mati kalau saja sebuah tangan yang terasa dingin itu tidak segera menahan dan menarikku kembali ke atas.

"Ya" Sahut cowok itu seakan-akan dia bisa membaca apa yang sedang ku pikirkan.

Aku memandangnya dengan ekspresi bingung.

"Maksudku, aku yang telah menolongmu" Sambungnya lagi.

"Ooh.. Thank u so much" Kataku pelan.

"U're welcome" Katanya sambil tersenyum.

"Oh iya, kenalin.. nama gue Asya, lo siapa?" Aku mengulurkan tangan untuk mengajaknya berkenalan.

Sesaat dia tampak ragu menjabat uluran tanganku. Ekspresinya Seperti baru pertama kali diajak berjabat tangan oleh cewek saja, maka aku pun berinisiatif mendahului menjabat tangannya. Tapi alangkah terkejutnya aku..!! Aku hanya menjabat angin. Tanganku malah menembus tangannya. Dia tak bisa kusentuh. Dia....

to be continue..

Friday, February 10, 2012

Ghost # Part 2

Hari ini sungguh menyebalkan. Aku bangun kesiangan gara-gara semalam Aldi mengajakku pergi ke bioskop. Katanya, dia ingin nonton film horor terbaru yang ditayangkan serentak di seluruh bioskop malam ini. Dia sengaja tidak mengajak salah satu di antara pacar-pacarnya karena takut malu-maluin kalau ketahuan jerit-jerit nggak jelas waktu nonton nanti, coz dia kan orangnya super penakut dan gampang kaget. Terakhir waktu gue sama dia nonton Dvd horor dirumahnya beberapa bulan yang lalu, pas adegan hantunya tiba-tiba muncul.. eh dia malah lari sampe keluar rumah sambil jerit-jerit saking kagetnya. Malu-maluin banget, kan. Dan alasannya mengajakku kali ini adalah karena takut pulang sendiri.

"Dasar aneh, kalo takut ya nggak usah nonton. Dasar penakut..!!" Omelku.

Tapi Aldi tetap bersikeras ingin nonton, katanya dia malu kalau ketahuan teman-teman cowoknya nggak nonton, apalagi gara-gara alasan takut, "bisa malu setengah mampus gue diketawain.." Kata Aldi sambil masang tampang memelas.

Awalnya aku menolak ajakan Aldi karena aku sangat tidak suka berada di tengah orang banyak, tapi akhirnya aku pun terpaksa ikut setelah Aldi merengek-rengek seperti anak TK yang minta dibelikan jajanan di depan mamaku agar aku mau ikut dengannya. Itu pun dengan syarat, "awas lo kalo sampe kaya waktu kita nonton dvd dirumah lo dulu, gue tinggalin lo!!"

Akhirnya, setelah hampir 2 jam nonton film pun selesai. Tapi bukannya bisa menarik napas lega karena bisa kembali ke rumah, Aldi malah mengajakku mampir di pasar malam. Hingga Jam menunjukkan pukul 23.00 malam barulah kami pulang ke rumah dan setelah mengucapkan terima kasih karena sudah mau menemaninya, Aldi pun kembali ke rumahnya yang berada tepat di sebelah rumahku. Sempat terdengar suara kucing di barengi jeritan Aldi. sepertinya film horor yang baru saja kami tonton masih membuatnya takut, sampai-sampai mendengar suara kucing saja dia langsung menjerit.

Di kamar, Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, seharusnya aku langsung tidur karena besok aku kuliah pagi. Tapi ternyata aku belum merampungkan tugas yang diberikan dosenku dan harus dikumpulkan besok pagi. Aku benar-benar lupa. Jadilah malam itu aku harus melewatkan malam dengan bergadang menghadap layar komputer sambil menahan kantuk. Aku baru bisa tidur setelah tugas itu selesai ku print saat jam menunjukkan pukul 03.00 pagi.
*****

Dengan tergesa-gesa aku pun mandi kilat dan berdandan seadanya. Tapi, aku sempat bingung karena rumah tampak sunyi. Dan setelah membaca sms dari mama aku baru tahu kalau mama dan papa mendadak pergi ke Bandung pagi-pagi sekali karena ada urusan bisnis dan mama tidak tega membangunkanku yang tertidur pulas. Pantas saja tak ada yang membangunkanku. Di rumahku kami tidak mempekerjakan pembantu karena sejak dulu mamaku terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Aku memutuskan untuk tidak sarapan karena takut terlambat dan langsung menuju garasi. Tapi sialnya kunci mobilku tidak ada. Di saat aku kebingungan mencari kunci itu, sms dari mama masuk lagi memberitahukan bahwa kunci mobilku terbawa olehnya karena kemarin mama meminjam mobilku untuk pergi arisan dan mama menyarankan agar aku berangkat ke kampus menggunakan taksi.

Tak berapa lama setelah ku telepon, taksi yang ku pesan pun datang. Ternyata sopirnya adalah lelaki gendut dengan rambut ala Elvis Presley yang terus menyanyikan lagu-lagu Elvis di sepanjang jalan tanpa henti dengan suaranya yang fals sehingga membuatku semakin bad temper alias be-te.

Dan lebih menyebalkannya lagi, sesampainya di kampus dosen yang bersangkutan ternyata berhalangan hadir dan salah satu temanku memberitahukan bahwa pengumpulan tugas ditunda sampai minggu depan. Aku yang saat itu sudah bete tingkat dewa setelah mendengarnya hanya bisa cemberut sambil mencari-cari Aldi yang akan ku jadikan sasaran omelan. Tapi entah kenapa Aldi tak ada dimanapun meski aku sudah mencari hampir di seantero kampus.

"Grrrrr.... Ini semua gara-gara Aldi. Awas kalo ketemu". Geramku sambil terus mencari.

Ghost # Part 1

"Aku Asya Magdalena dan Aku tidak percaya hantu"

Kata-kata itulah yang selalu ku katakan setiap aku menemui kejanggalan yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dimanapun aku berada. Entah itu dalam bentuk suara, poltergeist, atau apapun itu, jangan harap aku akan percaya. Bukannya aku sok berani, tapi sejak dulu aku memang tidak pernah bisa mempercayai hal apapun yg tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Bahkan saat salah satu siswi di kampusku kesurupan hingga membuat seisi kampus gempar dibuatnya karena tiba-tiba saja dia berlari mengejar Aldi sahabatku sambil bertingkah dan mengeluarkan suara seperti harimau yang siap untuk menerkam mangsanya. Beruntung Aldi yang saat itu tidak tahu kalau nyawanya sedang terancam tanpa disadarinya telah menyelamatkan dirinya sendiri. Karena tepat saat mahasiswi itu melompat untuk menerjang ke arahnya, Aldi malah berjongkok untuk memperbaiki tali sepatunya yang lepas. Sudah bisa ditebak, mahasiswi itu pun jatuh dengan wajah membentur lantai dan pingsan seketika. Semua yg menyaksikan hal itu pun bernapas lega, hanya Aldi yg sempat kebingungan sampai akhirnya diapun mengangguk-angguk mengerti saat salah seorang mahasiswa menjelaskan padanya apa yang baru saja terjadi. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba seorang mahasiswi lain kembali bertingkah serupa dengan mahasiswi sebelumnya. Aldi yang saat itu sudah menyadari bahaya yang mengincarnya langsung berlari seperti copet yang dikejar massa, dalam pikirannya saat itu cuma satu, "yang penting selamat".

Akhirnya setelah satu jam adegan kejar-kejaran itu berlangsung, paranormal dengan gaya super nyentrik berambut panjang gimbal dan berdandan ala koboi dengan pakaian serba hitam tapi malah bawa-bawa bola basket yg ga tau buat apa itu pun datang karena dipanggil oleh -aku juga tidak tahu siapa- dan membuat keadaan kembali normal. Setelah itu dia pun menjelaskan kalo ternyata kedua cewek itu kerasukan siluman harimau yang tinggal di sekitar kampus. Siluman itu marah karena Aldi secara tidak sengaja telah mengambil barang miliknya. Aldi hanya bisa mengangguk lemas mendengarnya, dalam hati ia dia juga bingung, "Gue ngambil apaan, ya? Lupa gue". Sedangkan aku hanya menunjukkan ekspresiku yg kaku seperti biasa setelah mendengar cerita Aldi dua hari setelah kejadian, karena kebetulan aku baru saja kembali setelah menghadiri acara keluarga di Bandung.

"ah, paling dua cewek itu cuma kesal sama lo yg playboy kelas topeng monyet itu. lagian mereka berdua kan mantan lo. Bisa aja kan mereka janjian buat ngerjain lo. makanya.. insyaf deh jd playboy".

"Pletak...!!" bukannya berterimakasih sudah diingatkan, Aldi malah memberi jitakan tepat di jidat ku Sambil berkata, "Lo tuh yang cap topeng monyet..Nggak da ya cap yg lebih baik dari pada itu, dasar!"

"Nggak ada... blee:P Hahahahaahaahaahaaa..."

"Grrrrrr..... dasar!! gue do'ain lo ketemu setan ntar"

Seperti biasa, aku cuma bisa tertawa geli melihat sahabatku itu marah.
Karena saat dia marah, wajah tampannya yg membuat hampir seluruh gadis di kampus terpesona saat melihatnya itu berubah jd menggelikan dengan tampilan bibir manyun+cemberutnya.

To be Continue...

Cerpen : Love at Smile

Senyum pertama
Aku bertemu dengannya di hari pertamaku menginjakkan kaki di kota Barabai. Sebuah kota kecil di Kalimantan Selatan yang terkenal dengan sebutan kota apam yang merupakan kue khas kota itu. Kota dimana aku menuntut ilmu disebuah Sekolah Menengah Kejuruan dan menghabiskan hampir seluruh waktuku selama 3 tahun dengan tinggal di asrama.

Saat itu aku baru saja turun dari angkutan umum yang telah kutumpangi selama 1/2 jam dari terminal Pantai Hambawang, setelah sebelumnya harus melalui perjalanan yang sangat melelahkan selama +7 jam dari kota asalku di Kalimantan Tengah.

Sesampainya disana aku pun langsung disambut oleh keriuhan terminal dan pasar yang memang terletak berdekatan. Bahkan, suara beberapa abang becak yang sibuk menawarkan tumpangan pun tampaknya tak ingin kalah menambah keriuhan itu. Tampak olehku beberapa pasang mata memandang kearahku dengan tatapan yang aneh. Tapi aku tak perduli, karena aku tahu pasti bahwa dandananku saat itulah yang membuat mereka terheran-heran. Bagaimana tidak, saat itu aku memang masih mengenakan dandanan ala punk-ku yang luar biasa nyentrik dan tak ketinggalan dua tindik perak di alis kiriku itu pun membuat mereka menatapku semakin aneh. Tapi.. aku sadar kemana aku akan datang. Buru-buru aku membeli sebotol air mineral untuk menghapus eye liner dan lipstik hitam yang kupakai dan dengan berat hati tindik itu pun kulepas saat itu juga.

Tak lama kemudian, aku pun memilih sebuah becak untuk mengantarkanku setelah sebelumnya kusebutkan alamat yang ingin kutuju pada tukang becak tua yang sebenarnya sudah tak pantas lagi untuk bekerja itu. Tapi ternyata semangatnya lebih kuat dari usianya. Meskipun aku sempat kasihan saat melihat dia bersusah payah mendorong becak yang kutumpangi saat melewati sebuah jembatan yang sedikit menanjak dan dia juga menolak dengan sopan ketika aku menawarkan diri untuk turun agar dia lebih mudah mendorong becaknya. Selain itu dia juga bisa diajak ngobrol. Sepanjang jalan aku bahkan banyak bertanya dengan tukang becak itu tentang nama tempat yang kami lewati. "Nah itu anak-anak asrama putra dari asrama yang akan kamu datangi itu, Nak" Katanya saat kami melewati segerombolan pemuda bersepeda yang semuanya memakai baju berwarna hitam biru yang belakangan kuketahui adalah baju khas asrama putra. Kulihat salah seorang dari mereka yang duduk diboncengan sepeda sempat melirik kearahku sambil tersenyum. Entah kenapa aku pun membalas senyumnya meski saat itu dia sudah tidak melihat ke arahku lagi.
*****

Tak terasa sudah tiga bulan aku tinggal di asrama. Kini penampilanku sudah berubah total dan jauh lebih manis jika dibandingkan penampilan anehku saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Semua yang kukenakan serba tertutup dan sopan. Bahkan aku juga punya rok untuk kupakai sehari-hari, meskipun seringkali aku masih kesulitan saat memakainya. Harus kuakui, gaya berjalanku memang masih jauh dari yang namanya anggun. Tapi tak apalah, yang penting ada perubahan.

Oh iya, besok bulan ramadhan yang kami nanti-nantikan tiba. Itu artinya, liburan panjang bagi kami seluruh penghuni asrama. Meskipun kami harus melewatkan 10 hari menjalankan ibadah puasa di sana sebelum akhirnya pulang, tapi hal itu tidak membuat kami kecewa. Apalagi sudah tradisi bahwa setiap bulan ramadhan asrama kami selalu mengadakan aktivitas ramadhan yang diisi dengan perlombaan antar asrama putra dan putri, tentu saja aktivitas itu akan jadi hal yang menarik bagi seluruh penghuni asrama. Dan kebetulan aku terpilih sebagai salah satu peserta dalam perlombaan nasyid islami. Tapi tetap saja aku dan teman-teman tak sabar menunggu liburan, apalagi aku yang sudah lama tak pulang.
*****

Senyum Kedua
Hari-hari pun berjalan begitu cepat. Saatnya aku dan kelompok nasyidku tampil. Meskipun pada awalnya sedikit grogi, tapi aku tetap bisa bernyanyi dengan tenang. Karena hari itu aku kembali melihatnya. Sosok yang tak pernah hilang dari pikiranku selama ini. Meski aku sendiri pun bingung kenapa aku masih mengingatnya. Lelaki di boncengan sepeda yang tersenyum padaku 3 bulan yang lalu. Ya, dia ada disudut sana, sedang bersiap-siap untuk tampil bersama kelompoknya. Ternyata dia juga terpilih sebagai peserta nasyid. Dan lagi-lagi dia tersenyum kepadaku persis seperti 3 bulan yang lalu. Aku pun kembali membalas senyumnya sambil terus bernyanyi. Dan kali ini aku yakin dia melihat senyumku.

Sejak saat itu entah kenapa aku merasa senang setiap kali mengingat senyumannya. Senyuman yang yang selalu menginspirasiku untuk menulis puisi dan lagu terindah untuknya, senyuman yang selalu menghiasi mimpi-mimpi indahku, dan senyuman yang selalu membuatku kembali tersenyum di kala aku sedih saat mengingatnya. Pernah suatu ketika kuceritakan pada Fanny yang merupakan sahabat dekatku tentang apa yang tengah kurasakan dan dia menanggapinya dengan mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta. Aku hanya tertawa saat mendengarnya, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada seseorang yang baru tersenyum padaku 2 kali dan namanya saja pun aku tidak tahu.Aneh.
****

Senyum Ketiga
3 tahun telah berlalu dan sekarang saatnya aku pergi meninggalkan asrama. Masih terkenang di memoriku peristiwa 1 tahun silam saat aku kembali melihatnya untuk ketiga dan terakhir kalinya di Perpisahan siswa-siswi kelas akhir yang diadakan di asrama putra-meski aku berharap itu bukan yang terakhir. Saat itu aku melihatnya berada diantara para siswa putra yang akan di wisuda. Namun aku hanya bisa melihatnya sekilas dibalik kesibukanku sebagai bagian panggung, karena memang sudah tugasku sebagai panitia. Sempat kulihat dia kembali tersenyum saat aku lewat tak jauh dari tempatnya berdiri. Tapi sayang, aku terlalu sibuk sampai tak sempat membalas senyumannya.

Setelah acara usai aku pun mencarinya. Berharap dia masih ada dan ingin berkenalan dengannya untuk yang terakhir kali. Meskipun sebenarnya aku telah tahu namanya beberapa bulan yang lalu. Tapi entah kenapa aku masih ingin mendengar langsung dari mulutnya, mendengar dan melihatnya berdiri tepat di depanku sambil berkenalan denganku seperti apa yang selama ini hanya bisa kukhayalkan.
Tapi sayang, dia sudah tak ada. Dia sudah pergi. Aku hanya bisa tertunduk sedih saat menyadari apa yang sudah terjadi. Tanpa sadar aku berkata lirih hampir tak bersuara, Kenapa kamu pergi..aku belum sempat bilang kan, kalo aku suka kamu..

Dan sejak saat itulah, aku tak pernah melihatnya lagi.
*****

Hidupku berjalan seperti biasa setelah aku lulus. Aktivitasku pun masih sama seperti disana, mungkin karena aku sudah terbiasa melakukannya. Tapi suatu hari semua itu berubah saat aku melihat sesuatu melalui akun facebookku yang membuat hati dan perasaan indah yang kurasakan selama ini hancur seketika. Perasaan yang sejak dulu tersimpan rapat dihatiku itu, kini berbalik menusukku dari dalam saat aku tahu bahwa dia sudah dimiliki orang lain. Aku hanya bisa menangis tanpa airmata yang memang tak pernah ingin kukeluarkan, meski sejujurnya aku ingin menangis sekeras mungkin agar dia tahu betapa sakitnya hatiku karenanya. Sakit karena rasa yang kumiliki, rasa bodoh yang tak layak kuungkapkan. Bahkan sejak awal aku memang mengganggapnya sebagai perasaan terkonyol. bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya tersenyum 3 kali kepadaku selama 2 tahun! bahkan kami tak pernah berkenalan sama sekali. Aku marah bercampur kecewa, berbagai cara kulakukan untuk melupakannya. Tapi tetap saja gagal. Aku terlalu sulit melupakannya. Apalagi saat melihat diriku di cermin. Sosok diriku yang telah "berubah" itu terus mengingatkanku pada semua hal tentang asrama dan pertemuanku dengannya. Mungkin aku harus kembali seperti dulu agar aku bisa melupakannya .

Sejak saat itu sedikit demi sedikit aku mulai kembali seperti dulu. Kembali ke duniaku yang gelap dan kaku bersama teman-teman lamaku yang ternyata tak pernah berubah bahkan cenderung lebih parah. Dunia yang telah membuatku dikeluarkan dari SMA dulu. Dunia yang dulu membuat kedua orangtuaku terpaksa mengirimku ke asrama. Dunia yang sebenarnya sudah benar-benar kutinggalkan, bahkan aku telah bersumpah untuk meninggalkannya seumur hidupku. Tapi ternyata aku menghianati sumpahku sendiri hanya untuk melupakan sebuah rasa. Parahnya, aku pun mulai berkenalan dengan kokain dan Sabu-sabu yang biasa kusebut ice cream melalui teman lamaku yang memang seorang junkies. Ya, benda-benda itulah yang membuatku bisa melupakan beban di kepalaku saat kuhirup melalui rongga hidungku dan kualirkan melalui pembuluh darahku. Semua itu membuatku tenang meski aku tak bisa kembali tersenyum seperti dulu.
****

Malam itu aku masih terbaring lemah di rumah sakit setelah melawati masa kritis karena overdosis yang hampir saja merenggut nyawaku. Untung saja aku sempat dilarikan ke rumah sakit. Kalau tidak, mungkin saat ini aku sudah berada di neraka karena ketololanku ini. Aku hanya bisa mengucapkan kata maaf pada ibu dan ayah yang dengan suara lirih saat aku sadar keesokan harinya. Kulihat airmata terus menetes di sudut mata ibu. Aku tahu mereka sangat kecewa dengan apa yang telah ku perbuat, tapi dengan tulus mereka masih memaafkanku. Sekali lagi aku menyesali ketololanku. Aku tak habis pikir kenapa aku bisa bertindak setolol ini. Hanya karena sebuah rasa. Memalukan!
*****

Setelah beberapa hari dirawat, hari ini aku sudah diperbolehkan dokter untuk meninggalkan rumah sakit untuk selanjutnya kembali melanjutkan pemulihan ke pusat rehabilitasi di Jakarta berdasarkan saran dari pamanku yang kebetulan tinggal disana.

Saat melangkah keluar rumah sakit, dalam hati aku bersumpah untuk mengucapkan selamat tinggal pada semua kebodohan yang telah kulakukan. Aku benar-benar menyesal.

*****
19 Januari 2012 (Senyum untuk Selamanya)
Setelah berbulan-bulan tinggal, saatnya aku meninggalkan pusat rehabilitasi. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu keluarga. Terima kasih ya Kek atas bantuannya selama ini. Kataku pada Pak Mulyo, salah satu petugas di pusat rehabilitasiku. Kulihat pria tua itu tersenyum melihatku sehingga membuatku teringat dengan almarhum kakek yang sangat kusayangi. Ya, Kek Mul, begitu dia biasa kupanggil. Selama aku tinggal disini dia sudah kuanggap seperti kakekku sendiri, begitu pula aku yang juga sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri. Kek Mul sudah tinggal disini sejak usianya masih 30 tahun dan sekarang dia sudah berusia 55 tahun. Narkoba jualah yang telah mengirimnya kesini, sama sepertiku. Sampai akhirnya dia pun memilih untuk tinggal dan bekerja disini. Sama-sama, Nak. Kamu baik-baik ya diluar sana. Ingat semua nasihat dan pesan kakek,ya . Katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.

Iya kek. Aku pulang,ya. Aku janji bakalan sering-sering nelpon kesini. Assalamua alaikum

Wa alaikumsalam

Nak..! Tiba-tiba Kek Mul Memanggilku.

Kenapa Kek? Tanyaku heran.

Kamu kenapa pulang sendiri? Bukannya kamu dijemput.

Dijemput?

Iya. Mereka sudah menunggu kamu sejak tadi pagi di ruang tunggu. Memangnya kamu tidak tahu?

Nggak kek Aku menggeleng.

Ooh.. Rere pasti lupa memberitahumu. Tadi bapak yang nyuruh dia buat nyampein ke kamu. Ternyata penyakit lupanya masih,ya Kata Kek Mul sambil terkekeh. Dia paham betul bahwa Rere yang juga merupakan teman senasibku itu memang pelupa berat.

Emangnya siapa yang jemput aku, Kek? Ibu sama ayah kan sudah ngabarin kalo hari ini ada acara keluarga, jadi nggak bisa jemput.

Katanya sih temen kamu dari Kalimantan. Ya sudah, ayo kita ke ruang tamu. Ajak kakek.

Aku pun mengikutinya dengan hati yang penasaran.
****

Betapa terkejutnya aku saat tiba di ruang tamu. Disana telah duduk dua sosok yang sangat ku kenal. Dia adalah Fanny dan laki-laki itu. Ya, dia. Laki-laki itu ada disana. Wajahnya masih sama seperti dulu dan tampaknya dia tak kalah terkejutnya melihat kedatanganku.

Kamu? Seruku. Dia tidak menjawab, tapi bergerak maju dan mendekat ke arahku. Perlahan-lahan dia pun meraih tangan kananku dan menggenggamnya.

Iya, Ini aku.

Ke..

Karena aku ingin menjemput senyuman itu. Potongnya sebelum aku sempat menyelesaikan pertanyaanku

Maksud kamu?

Iya. Senyuman gadis didalam becak 3 tahun yang lalu. Ingat, kan?

Aku tersentak mendengarnya. Bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya.

Ya, aku ingat jawabku pelan.

Tiba-tiba saja dia melepaskan tangannya dari tanganku dan langsung memelukku dengan erat, Maafkan aku. . Aku yang salah. Seharusnya aku tak perlu tahu perasaanmu sebelum mengatakannya. Aku ini memang terlalu pengecut. Ucapnya.

Kukira mencintai seorang gadis yang hanya membalas senyumku 2 kali adalah suatu kekonyolan hingga aku tak pernah bisa mengatakannya. Hingga aku mencoba untuk mencari hati yang lain. Tapi aku benar-benar tak bisa melupakannya. Rasa itu memang benar-benar nyata. Akulah yang terlambat menyadarinya. Seharusnya aku sudah mengatakannya sejak aku menyadarinya. Tapi aku terlalu takut kalau ini hanyalah sebuah rasa yang timpang. Aku takut kamu tidak punya perasaan yang sama. Kalau saja Fanny tidak menceritakan semuanya, mungkin aku tidak disini sekarang

Perlahan kulepaskan pelukannya. Kulihat kearah Fanny, sahabatku itu tersenyum manis kearahku. Tak terasa airmata mengalir pelan disudut mataku. Aku benar-benar terharu. Tak kusangka bahwa rasa ini ternyata sama. Rasa ini sama sekali bukan rasa yang timpang. Aku pun kembali memeluk lelaki itu, bahkan kali ini lebih erat dari saat dia memelukku tadi.
 
Oh iya, kita kan belum kenalan. Katanya tiba-tiba.

Namaku Bastian Nugroho.. Kamu?

Fhellisya Veronica. Sahutku.

Tiba-tiba dia melepas pelukannya.

Ups.. Kita kan bukan muhrim..

Eh iya, ya& aduhh&

Kami berdua pun sama-sama garuk-garuk kepala dan salah tingkah.

Tapi& semoga jadi halal nantinya& Suara Kek Mul mengejutkan kami berdua. Kontan saja pipiku bersemu merah karena malu. Begitu juga dengan Bastian. Dan akhirnya kami berempat pun tertawa bersama.

Siang itu aku pun bisa tersenyum kembali. Ternyata ini bukan rasa terkonyol seperti apa yang selama ini kupikirkan. Tapi ini adalah rasa terindah yang pernah kumiliki. Ya, cinta itu memang sederhana, bahkan aku pun tak pernah menyangka bisa mencintai seseorang hanya karena senyuman. Dan kini, senyum itu pun akan kumiliki selamanya ^_^

*Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian itu hanya kebetulan semata hehee& ^_^