Siang itu di sebuah kampus.
“Cindy..!!!” Teriak Raka sambil berlari kearah Cindy yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
“Kenapa, Ka?” Tanya Cindy sambil melihat ke arah Raka yang senyum-senyum gaje.
“Malam ini jalan yuk” Ajak Raka.
“Jalan..?” Cindy tampak bingung.
“Iya, jalan. Lupa ya, hari ini hari jadian kita tepat yang ke-8 tahun.”
“Oh iya, aku lupa.” Sahut Cindy sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Yah, kok lupa sih Cin. Tapi... kita jadi kan jalan?”
“Maaf ya Ka. Aku banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan malam ini juga. Besok tugas itu harus dikumpulkan sama dosen. Jadi harus selesai.”
“Kalau gitu aku ke rumah kamu aja. Jadi, aku bisa sekalian bantuin kamu ngerjain tugas. Gimana?”
“Terima kasih udah mau ngebantu. Tapi tugas ini mau aku kerjain sendiri aja, Ka.”
“Yah.. berarti acara malam ini gagal dong Cin. Padahal aku sudah nyiapin sesuatu yang special buat ngerayain hari jadian kita ini.” Raka terlihat sangat kecewa.
“Kan besok masih bisa, Ka. Besok aja ya.”
Raka diam tidak menjawab.
“Raka, kamu kenapa? Kok kamu diam? Kamu marah ya sama aku?”
Tiba-tiba Raka meraih kedua tangan Cindy sambil menatap dalam-dalam kedua mata indah ceweknya itu.
“Kita memang pacaran kan?” Tanya Raka serius.
Mendengar itu Cindy tersenyum sambil membalas tatapan cowoknya itu sambil berkata,
“Sampai berapa kali sih kamu harus mengulang pertanyaan yang sama itu lagi. Hampir setiap tahun sejak pertama kali kita jadian kamu nanyain hal ini sama aku. Kenapa, Ka?”
“Jawab dulu pertanyaanku, Cin?”
“Iya Raka sayang, kita pacaran..” Jawab Cindy sambil tangannya mencubit kedua pipi Raka gemas.
“Aduh.. sakit Cin lepasin”
“Iya, iya. Tapi kamu harus janji. Mulai sekarang jangan tanyain hal itu lagi ya.”
“Iya, iya.” Janji Raka.
“Oh iya. Kamu mau pulang kan, Cin. Aku anterin ya..” Tawar Raka
“Nggak usah, Ka. Aku tadi bawa mobil sendiri. Nanti nggak ada yang bawa pulang kalo aku ikut kamu.
“Iya, ya. Ya udah, hati-hati dijalan ya Cin..”
“Iya,. Kamu juga, jangan ngebut.”
“He..he.. iya,ya. Tapi ngebutnya nggak janji ya.”
“Dasar tukang ngebut.. Ya udah, aku duluan ya, Ka. Bye” Pamit Cindy.
“Bye.”
“Cin..!!” Teriak Raka tiba-tiba yang spontan membuat langkah Cindy terhenti dan menoleh ke arahnya.
“Kenapa lagi, Ka?”
“I love u my angel” Kata Raka lembut.
“I love u too” balas Cindy sambil tersenyum manis.
Cindy pun pergi diiringi tatapan dan senyuman dari Raka. “Andai setiap hari senyuman itu ada untukku.” Batin Raka.
###
Malamnya dirumah Cindy.
Raka malam ini sengaja datang buat ngasih kejutan specialnya yang memang sudah dipersiapkannya sejak seminggu yang lalu. Setelah beberapa lama menunggu di depan pintu akhirnya pintu pun dibuka. Ternyata Lala, adik Cindy yang ngebukain pintu.
“Eh ada Kak Raka. Masuk kak. Sorry ya lama ngebukainnya, ngga denger tadi hehe.. ”
“Thank’s La. Cindy mana?”
“Lho, bukannya Kak Cindy pergi sama kakak tadi”
“Nggak La. Sebenarnya sih emang mau pergi, tapi kata Cindy dia ada tugas yang harus dikerjain malam ini. Jadi, dibatalin deh.”
“Tapi bener lho kak, tadi kak Cindy udah pergi. Lala kira dijemput sama Kak Raka”
“Ooh.. ya udah La. Mungkin dia pergi ke rumah temennya buat ngerjain tugas sama-sama kali. Oh iya ini. Kakak titip ini ya buat Kak Cindy” Raka menyerahkan kado yang berukuran cukup besar kepada Lala.
“Iya, Kak. Masuk dulu Kak. Disuruh masuk kok nggak masuk-masuk sih”
“Nggak usah, La. Kakak pulang aja. Lagian Kak Cindy kan nggak ada, masa kakak malem mingguan sama anak kecil.” Kata Raka.
“Anak kecil? Maksudnya aku Kak?”
“Emangnya siapa lagi”
“Ih Kak Raka nyebelin, aku kan sudah kelas 2 SMA, masa masih dibilang anak kecil sih” Lala manyun.
“Hahahahaha..muka kamu tuh lucu deh kalo lagi marah, pake manyun-manyun segala lagi” sahut Raka sambil mengacak-acak Rambut Cika.
“Ya Udah kalo nggak mau dibilang anak kecil nggak papa, Kakak panggil anak besar aja ya?” sambung Raka
“Ih itu kan kedengerannya aneh kak. Nggak ada kata-kata yang lebih bagus apa?”
“Nggak ada” Jawab Raka dengan ekspresi super nyebelin.
“Dasar Kak Raka nyebelin” Omel Lala.
“Hehehe.. ya udah La, Kakak pulang dulu ya. Salam buat Mama sama Kak Cindy.”
“Iya Kak. Hati-hati di jalan ya, Kak”
“Iya anak besar hehehe…”
“Sebelll…..!!!!” Teriak Lala.
Ketika mobil Raka keluar dari gerbang rumah Cindy mobilnya berpapasan dengan mobil berwarna merah yang memasuki halaman rumah Cindy. Karena penasaran siapa yang datang, Buru-buru dihentikannya mobilnya itu.
Tampak olehnya Cindy keluar dari mobil itu bersama seorang cowok. Cowok yang sudah sangat dikenalnya. Riko, mantan Cindy sewaktu mereka masih SMA. Mantan Selingkuhan tepatnya. Dengan emosi Raka pun segera turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua.
“Cindy!!” Teriak Raka.
“Raka..” Gumam Cindy tekejut melihat kehadiran Raka. Begitu pula dengan Riko yang tak kalah terkejutnya.
Bukk..
Riko langsung jatuh akibat tamparan Raka yang tepat mengenai pipi kanannya itu.
“Tenang, Ka. Biar aku jelasin. Kamu jangan salah paham dulu.” Kata Riko sambil memegang pipi kanannya yang kemerahan akibat pukulan Raka.
“Nggak ada lagi yang perlu dijelasin. Kamu mau ngejelasin apa lagi dengan dandanan kalian berdua yang seperti ini. Pantas saja Cindy menolak ajakanku untuk jalan malam ini. Ternyata ini jawabannya.”
“Tolong, Ka dengar dulu. Aku cuma nemenin Raka yang baru datang dari Aussie buat jalan-jalan. Kita kan sudah lama nggak ketemu.”
“Dengan mengorbankan hari jadian kita yang ke-8! Kamu keterlaluan Cin. Kamu sudah berkali-kali ngelakuin hal yang sama dengan orang yang sama. Kamu pikir aku nggak punya hati, Cin!”
Mendengar itu Cindy hanya bisa terdiam.
“Dan loe Rik! Nggak ada bosen-bosennya loe ya gangguin hubungan orang. Udah nggak laku loe ya. Bangsat loe Rik!” Umpat Raka sambil bersiap-siap untuk memukul Riko lagi.
“Jangan, Ka. Jangan sakiti dia.” Teriak Cindy.
Dengan terpaksa Raka pun mengurungkan niatnya untuk memukul Riko. Dia pun segera berbalik dan beranjak pergi.
“Sepertinya kali ini kita memang harus break Cin. Gue nggak sanggup lagi loe sakiti. Gue seneng kok kalo loe bahagia sama Riko” Kata Raka. Dia mengucapkannya tanpa menoleh dan setelah itu dia segera pergi meninggalkan Cindy dan Riko.
Cindy menatap kepergian Raka. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa sangat sakit. Tidak pernah sekalipun selama dia dan Raka jadian dia mendengar Raka memanggilnya dengan kata Loe. Dia tahu kali ini Raka bener-bener marah atas sikapnya.
Di sepanjang jalan pulang Raka mengendarai mobil dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Hatinya terasa sangat sakit kali ini. Bahkan lebih sakit dari biasanya.
###
Ckittttt… Dukkk..
Raka mendadak mengerem mobilnya. Ternyata mobilnya telah menyerempet seseorang. Buru-buru Raka keluar dari mobilnya.
“Loe ngga papa kan?” Kata Raka.
Ternyata yang diserempetnya itu adalah seorang gadis dengan dandanan ala punk yang tampaknya sebaya dengannya.
“Nggak papa apanya! Kaki gue luka nih!” Sahut cewek itu galak.
“Ya udah, sini ikut gue. Kita ke rumah sakit.” Ajak Raka.
“Nggak ah. Gue benci sama rumah sakit. Gue nggak mau kesana!” Tolak cewek itu masih dengan ekspresi galaknya.
“Pokoknya kita kerumah sakit. Gue nggak mau di cap sebagai pelaku tabrak lari. Ayo ikut gue” Paksa Raka sambil memapah cewek itu ke mobilnya.
Akhirnya cewek itu pun pasrah. Secara kakinya nggak bisa di pake buat kabur sih.
###
Di rumah sakit.
“Dokter, gimana keadaannya?” Tanya Raka ketika melihat dokter baru saja keluar dari kamar cewek itu.
“Kamu keluarganya ya?”
“Iya Dok, saya Kakaknya” Jawab Raka asal.
“Kalau bagitu kamu ikut keruangan saya”
“Baik, Dok”
Di ruangan dokter
“Sebenarnya luka yang dialaminya tidak begitu parah. Tapi setelah melihat hasil rontgen, sepertinya dulu kakinya pernah patah,Bener itu?”
“Iya, Dok. Waktu itu dia pernah jatuh dari pohon mangga waktu kecil” Jawab Raka, lagi-lagi asal.
“Pantas saja. Benturan yang menyebabkan lukanya itulah yang juga mengakibatkan tulang kakinya yang pernah patah sedikit agak retak. Jadi, dia harus dirawat disini. dan berada dalam pantauan kami karena ditakutkan akan terjadi sesuatu dengan kakinya apabila dia tidak dirawat.
“Tapi retaknya bisa sembuh kan, Dok?”
“Iya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin
“Ya udah, Dok. Rawat aja. Berapapun biayanya akan saya bayar. Permisi ya, Dok.”
“Iya”
Raka pun meninggalkan ruangan Dokter dengan langkah gontai menuju kamar tempat cewek itu dirawat.
Pelan-pelan Raka membuka pintu kamar.
“Buka aja kali. Nggak usah kaya maling gitu!” Kata cewek itu.
“Yee..enak aja bilang gue maling. Gue kan nggak mau ganggu istirahat loe.”
“Sok baik!” kata cewek itu ketus.
“Emang gue baik kok” Sahut Raka.
“Baik kok nabrak gue. Itu yang loe namain baik? Hah?”
“Ya maaf. Gue kan nggak sengaja. Gue lagi kesel..”
“Kesel kok gue yang kena dampaknya. Shit..!!”
“Kan gue sudah minta maaf. Maafin gue ya?”
“Iye, gue maafin. Lain kali kalo kesel diam di rumah aja. Jangan di jalan, ntar ada lagi orang yang loe tabrak”
“Iya, iya. Oh iya, kenalin nama gue Raka, loe?”
“Panggil aja gue Key.”
“Apa? Kunci?” Goda Raka.
“Sialan loe. Key. K-E-Y Key. Paham!”
“Iya. Gue Cuma bercanda. Galak amat sih jadi cewek.”
“Ember”
“Baskom” Sahut Raka
“Dasarrrr…” Kata Key sambil tersenyum.
“Manis juga senyumnya. Mirip kaya seseorang, tapi siapa ya?” Batin Raka.
“Hey! Ngelamun loe?” Tegur Key.
“Hehe.. nggak kok.”
“Nggak apanya. Emang tadi loe ngapain?”
“Gue ngedo’ain loe tau, supaya cepat sembuh..”
“Is that So?”
“Up to u deh”
“Hahahahahaha... ternyata loe tukang ngelamun juga ya. Jadi ingat seseorang gue”
Raka pun cuma bisa nyengir masam diketawain sama Key.
Siang itu di kamar Cindy.
Tok,tok,tok..
“Masuk, nggak dikunci” Kata Cindy.
“Lagi ngapain, Kak?”
“Eh Lala. Nggak lagi ngapa-ngapain kok La, ada apa?”
“Cuma mau ngasihin ini ke Kakak. Nih dari Kak Raka, tadi malam dia kesini nyariin kakak.”
“Raka?” Cindy mengambil kado itu dari tangan Lala.
“Iya, Kak. Dari Kak Raka. Emangnya tadi malam Kakak kemana sih? Kakak ngebohong kan sama Kak Raka?”
“Maksud kamu?”
“Kata Kak Raka tadi malam kalian nggak jadi jalan gara-gara Kakak mau ngerjain tugas kan. Karena dia memang sudah nyiapin kado ini buat kakak, jadi dia datang kesini buat ngasih surprise ke Kakak, eh Kakaknya nggak ada. Kasihan Kak Raka, sepertinya dia kecewa sekali. Untung aku nggak bilang kalo Kakak keluarnya pake baju bagus kaya orang mau malming gitu. Emangnya Kakak jalan sama siapa sih?”
“Sama Riko, La.”
“Apa! Sama Kak Riko! Gimana kalo Kak Raka sampe tau, Kak.. Aduh Kak Cindy macam-macam aja nih”
“Dia udah tau, La” Sahut Cindy lirih.
“OMG Ka.. Kasian banget Kak Raka. Lala tau kalo Kak Raka itu sayang banget sama Kak Cindy. Tapi kenapa Kakak kok tega banget nyakitin hati Kak Raka lagi. Ini sudah yang yang ke berapa kalinya kakak nyakitin Kak Raka, Kak.”
“Kamu kok jadi nyalahin Kakak gitu sih, La”
“Nggak, Ka. Aku cuma mau ngingetin Kakak aja. Coba kakak bayangin kalo kakak yang berada di posisi Kak Raka, pasti sakit kan rasanya. Iya kan, Ka?”
“Ya udah. Kamu tinggalin Kakak dulu ya. Kakak mau istirahat.”
“Iya, Ka.”
Lala memang sudah pergi dari kamar Cindy, tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang di telinga Cindy. Dalam hatinya Cindy mengiyakan semua yang dikatakan Lala. Dia baru sadar hati Raka memang sudah terlampau sakit. Dia masih ingat ketika kelas 2 SMA waktu dia pertama kali menghianati Raka. Di selingkuh di belakang Raka dengan Riko yang merupakan teman dekatnya sejak kecil. Sampai akhirnya Raka mengetahui hubungannya dengan Riko. Meskipun pada akhirnya Raka memaafkannya. Setelah Cindy datang dan memohon maaf kerumah Raka dan berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi. Tapi janji itu hanya dimulut saja. Kenyataannya Cindy masih saja berhubungan dengan Riko dan tak jarang pula mereka “ketangkap basah” sedang jalan berdua oleh Raka. Dan lagi-lagi adegan Cindy meminta maaf pun terjadi. Tapi entah mengapa selalu ada kata maaf untuk Cindy dari Raka. Meskipun Cindy tahu betul dari sorot mata Raka yang tak bisa berbohong bahwa hatinya sangat lah terluka.
Mata Cindy tertuju pada kado yang ditinggalkan Lala tepat di hadapannya itu. Perlahan-lahan diambilnya kado itu dan dibukanya. Ternyata isinya sebuah boneka Teddy Bear berwarna putih yang sangat lucu dan dengan kartu ucapan yang berisi kata-kata tulisan tangan Raka.
Dear my angel..
Nggak kerasa sudah 8 tahun. Tetap setia ya My angel ^_^
Boneka ini namanya Cika (Cindy Raka hehe..) , dengan bulunya yang putih dia akan menemani hari-hari my angel biar selalu full of happiness (Malaikat kan suka putih.. hehe).
Senyum mengembang di bibir Cindy setelah membaca kartu ucapan dari Raka. “Sayang semuanya sudah berakhir” Gumam Cindy penuh penyesalan. Dia pun bergegas untuk membuang kertas kado itu ke bak sampah yang terletak di sudut kamarnya.
“Lho kok kaya masih ada dalamnya sih” Tanya Cindy pada dirinya sendiri sambil menggoncang-goncang bungkusan kado tersebut.
Dilihatnya kembali bungkusan kado itu. Ternyata masih ada satu benda dibawahnya. Sebuah Kado kecil tanpa tulisan sama sekali. Segera dibukanya kado itu dan betapa terkejutnya Cindy melihat isinya. Sebuah kaset tape. Cindy semakin penasaran dan segera di putarnya kaset itu di tape recorder yang selalu dibawanya untuk merekam penjelasan dosen saat dia tidak masuk kuliah.
Lagu ini aku persembahkan buat my angel yang selalu dihatiku. Cindy.
Lihat aku disini
Kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi entah mengapa
Aku bisa memberikan maaf padamu
Mungkin karena cinta
Padamu tulus dari dasar hatiku
Mungkin karena aku berharap
Kau dapat mengerti cintaku
Lihat aku disini
Bertahan walau kau selalu menyakiti
Hingga airmataku tak dapat
Menetes dan habis terurai
Mungkin karena cinta
Padamu tulus dari dasar hatiku
Mungkin karena aku
Berharap kau dapat mengerti cintaku
Meski kau terus sakiti aku
Cinta ini akan selalu memaafkan
Dan aku percaya nanti engkau
Mengerti bila cintaku tak kan mati
Suara itu terdengar begitu merdu. Sudah lama Cindy tidak mendengar suara merdu Raka. Sejak dulu Raka memang memiliki suara yang merdu, tapi entah mengapa dia tidak pernah mau jika disuruh menyanyi. Cindy pun hanya sekali pernah mendengarnya. Itu pun baru bisa setelah dia pake acara ngancam mau ngambek kalo Raka nggak nyanyi. Waktu itu Raka nyanyiin lagunya Kerispatih yang judulnya Lagu Rindu yang membuat muka Cindy merah merona saat mendengarnya. Merdu sekali.
Suara Raka kembali terdengar setelah nyanyiannya. Suara dengan nada yang terdengar berat. Sepertinya Raka mengucapkannya dengan segenap perasaannya.
“Cin.. ini adalah jawaban kenapa selama ini aku selalu saja memaafkan kamu. Meskipun jujur, hatiku sakit, teramat sakit malah. Tapi aku yakin kalo dalam hidup ini cinta itu cuma satu. Dan bagiku kamu adalah cinta pertama sekaligus terakhir untukku.”
Cindy terdiam mendengar setiap kata-kata itu. Dia baru sadar betapa keterlaluannya dia selama ini. Dia begitu jahat pada Raka, orang yang begitu tulus mencintainya. Orang yang selalu punya senyum indah untuknya. Orang yang selalu ada saat dia butuhkan. Dan orang yang akan menghapus airmatanya saat dia sedang menangis. Perlahan-lahan butiran bening pun berjatuhan dari sudut mata Cindy. Tanpa ada yang menghapusnya.
###
“Udah gue bilang kan, kalo mau masuk jangan kaya maling!” Hardik Key dari atas ranjangnya.
“Hehehehe… gue kira loe lagi tidur,Key.” Raka nongol dari balik pintu sambil garuk-garuk kepala.
“Mana bisa tidur gue. Soalnya feeling gue mengatakan siang ini bakal ada penyusup nyebelin yang akan masuk ke kamar ini buat gangguin gue.” Kata Key super ketus.
“Lho, kok muka loe masih gitu, Key? Ngeri tau.” Kata Raka melihat dandanan muka Key yang masih sama seperti tadi malam.
“Up to me.” Jawab Key cuek.
“Tapi kan ini rumah sakit, Key. Lagian nggak cocok sama pakaian rumah sakit yang loe pake. Cuci aja deh.”
“Beneran ya nggak cocok?” Key mulai bereaksi mendengar ucapan Raka.
Ya iyalah. Lagian dandanan loe udah mulai luntur. Kaya orang jatuh di lumpur.” Bohong Raka hiperbola.
“Masa sih?” Key mulai risih.
“Beneran!” Jawab Raka meyakinkan.
“Ya udah deh. Tapi gimana gue nyucinya? Gue kan nggak bisa jalan sendiri.
“Emang loe pikir gue ngga bisa bantuin loe apa. Sini!” Raka membantu Key turun dari ranjang dan memapahnya ke kamar mandi.
“Udah cuci aja” Perintah Raka.
Tapi yang disuruh malah diam sambil ngeliat air di bak mandi.
“Di suruh cuci muka kok malah diem sih” Tanya Raka heran.
“Males megang air. Dingin kali ya.” Jawab Key.
“Ada-ada aja loe Key. Sini gue cuciin.” Raka mendekat ke arah Key.
“Eittzz.. nggak mau ah.”
“Udah, nurut aja kenapa sich. Gue bukan tukang operasi plastik yang bisa ngerubah muka loe kali, Key”
Akhirnya Key pasrah dandanan mukanya dibersihkan oleh Raka.
“Nah, selesai. Nih, keringin pake handuk” Kata Raka sambil menyerahkan handuk yang ada di kamar mandi.
“Nggak ah. Jijay, ini handuk rumah sakit kan. Pasti bekas orang.”
“Nggak, ini handuk yang baru gue beli di toko yang ada di rumah sakit ini. Pakai aja, dijamin bersih kok.”
“Oh, thank’s yah.” Key pun mengeringkan wajahnya dengan handuk yang diberikan Raka.
“Nih, sudah selesai.” Key menyodorkan handuk pada Raka.
“Oh i..ya.” Raka terpana ketika melihat wajah Key. Memang, sedari tadi dia tidak begitu memperhatikan wajah itu. Wajah Key ternyata memang benar-benar mirip sesorang. “Tapi siapa ya?” Batin Raka.
“Woy, ngelamun lagi ini orang..!!!!” Suara Key menyadarkan Raka.
“Eh, hee. Ya udah sini. Kita kembali ke ranjang.”
Raka kembali memapah Key untuk kembali ke ranjang. Sesampainya disana Key kembali rebahan di ranjang. Sedangkan Raka duduk di kursi yang terletak di samping ranjang. Raka menatap wajah yang ada di depannya itu dengan sorot mata yang tajam sehingga membuat Key risih dibuatnya.
“Kenapa sih liat-liat gue kaya gitu. Ngeri tau muka loe.” Tegur Key.
“Key. Gue sepertinya pernah liat loe. Tapi gue lupa.”
“Masa sih? Kayanya nggak mungkin deh.”
“Kok nggak mungkin Key?”
“Nggak mungkin aja. Coz gue baru aja datang kesini, itu pun Cuma buat jalan-jalan. Sampai akhirnya gue ditabrak sama loe.”
“Emangnya loe tinggalnya dimana sih?”
“Gue tinggal di Jakarta. Gue cuma jalan-jalan kok disini. Kebetulan gue lagi liburan sama band gue.”
“Loe punya band?”
“Yupz.. Masa loe nggak kenal sama gue?”
“Nggak. Emang nama band loe apa?”
“Kokain Band.”
Raka terkejut mendengar nama itu. Nama itu sangat tak asing di telinganya. Meskipun nama itu merupakan nama salah satu jenis narkotika, tapi baginya nama itu adalah sebuah nama yang tak kan pernah bisa dilupakannya. Nama singkatan antara Raka dan kedua temannya masa kecilnya, Riko dan Inez.
“Kok loe pake nama itu, Key?”
“Nggak tau. Coz pas aku sama temen-temen ngusulin nama band, nama itu terlintas di kepalaku. Untunglah nama itu disetujui sama yang lain. Lagian band kami kan aliran Rock. Jadi, ngga mungkin pake nama yang biasa-biasa aja.”
“Iya juga sih.”
“Btw, loe bawa handphone nggak?” Tanya Key.
“Bawa, kenapa emangnya?”
“Boleh nggak gue minjem. Coz gue mau ngasih kabar sama temen-temen gue kalo gue disini.”
“Oh iya, nih” Raka menyerahkan handphonenya ke tangan Key.
Jari-jari Key lincah memencet tombol nomor yang ada di handphone Raka. Sesaat terdengar nada tunggu. Terdengar suara cowok diseberang sana.
“Hallo, siapa nih?”
“Gue Key, Bas.”
“Key! Loe dimana, Key? Kami semua sibuk nyariin loe tau.”
“Gue di rumah sakit, Bas”
“Apa! Rumah Sakit! Loe kenapa Key?”
“Aduh.. kenceng amat sih loe ngomongnya. Sakit nih kuping gue dengernya”
“Hehehe.. Sorry Key. Abis gue sama yang lain panik nyariin loe. Loe dimana?”
“Gue di rumah sakit Cahaya Kasih, cepet kesini ya! Jangan lupa bawain gue makanan. Ochee!”
Klik. Key memutuskan hubungan telepon.
“Nih handphone loe. Thank’s yah”
“You’re Welcome.”
Setengah jam kemudian terdengar pintu diketuk.
Tok,tok,tok..
“Masuk aja” Kata Raka.
Ketika pintu dibuka, tampak 2 orang cewek dan 2 orang cowok yang ternyata punya dandanan sama seperti Key kemarin. Punk.
“Key! Loe nggak papa kan?” Seorang cowok dengan postur tubuh yang lumayan tinggi segera menghampiri Key.
“Nggak papa, Bas. Tulang kaki gue cuma retak kok.” Jawab Key santai.
“Apa! Cuma, loe bilang! Dasar..”
“Hehehe...” Key nyengir.
“Oh iya. Kenalin itu Raka. Dia yang udah nolongin gue kemarin waktu gue jatuh.” Bohong Key.
Raka melirik ke arah Key dengan pandangan yang aneh.
“Udah, iyakan aja. Ntar kalo Bas tau Loe yang nabrak gue, loe bakalan babak belur dibuatnya.” Bisik Key.
“Kenapa sih bisik-bisik?” Selidik Bas.
“Ah nggak papa kok. Cuma ngasih tau dia aja supaya hati-hati sama loe, loe kan galak hee..” Elak Key.
“Bukannya loe yang paling galak. Dasar.. nih makanan loe” Bas menyodorkan tas plastik hitam kepada Key.
“Asyik. Nasi padang kan?”
“Ya iyalah. Apa lagi coba selain dari itu. Entar ujung-ujungnya loe nggak mau makan lagi. Kalo sakit kan loe suka pilih-pilih makanan.”
“Tepat sekali. Makasih ya, Bas..”
“Oh iya, sebelum gue makan kenalin, Ka. Ini temen-temen gue. Cewek yang putih itu namanya Letta,orang cina dia tuh, jadi kalo ngomong loe nggak usah pake ‘r’. Dia pianis di band kita.” Raka melihat ke arah cewek yang ditunjuk Raka, dia tersenyum manis sambil mengangguk. “Biar punk ternyata dia manis juga” Batin Raka.
“Terus disebelahnya yang hitam manis itu namanya Mikha. Dia basis.” Mikha tersenyum pada Raka, tapi ekspresinya terlihat kaku, tampaknya cewek satu ini gayanya memang kaku dan cuek.
“Yang gembul itu namanya Robb. Sebenarnya sih Robby namanya. Dia orang betawi asli. Kalo ngomong logatnya aja betawi kental. Gayanya aja yang kaya bule. Dia drummer, cocok kan drum sama perutnya hehehe”
“Sakit aje masih ngata-ngatain gue loe ye. Dasar.. ntar kalo sudah sembuh gue dudukin loe biar tau rasa.” Ancam Robb. Yang disambut dengan tawa oleh Key dan yang lain. Tampaknya kejadian ini sudah sering terjadi antara Robb dan Key.
“Nah, yang terakhir. Yang paling ganteng itu gitaris, sama kaya Bas. Namanya Mike dia barang impor di band. Di impor langsung dari Aussie lho hee..” Mike hanya mengangguk pada Raka. Berbeda dengan Raka yang bereaksi ketika mendengar Key menyebut Aussie. Dia seperti
Sementara Key makan, Bas mengajak Raka keluar kamar untuk berbincang-bincang.
“Terima Kasih banyak ya, Ka. Loe udah nolongin Key.”
“Sama-sama Bas.” Jawab Raka. Dia agak risih dengan gaya Bas yang menurutnya serem itu.
“Loe tau nggak. Gue takut banget kalo sampai harus kehilangan Key. Dia kan ade gue. Sejak kecil kami selalu sama-sama, bahkan sampai sekarang. Dia itu anaknya emang nggak bisa diam. Maunya gerak terus. Hiperaktif. Kemarin waktu dia hilang gue santai aja, tapi setelah jam 11 malam gue mulai khawatir. Makanya gue nyari-nyari dia sama temen-temen, gue bela-belain nggak tidur tadi malam buat nyari dia sampai tadi. Untung dia cepet ngabarin, kalo nggak rencananya kami mo lapor polisi.”
Raka Cuma bisa mengganguk-anggukan kepala mendengar celotehan Bas. “Jadi nggak enak udah bohong, padahal kan aku yang nabrak Key” Batin Raka.
“Tapi tenang Bas, yang penting kan sekarang Key udah aman. Meskipun ada sedikit masalah sama kakinya.”
“Apa kata dokter tentang kakinya?” Tanya Bas khawatir.
“Kata dokter mungkin sebelumnya tulang kaki Key pernah patah dan benturan yang melukai kaki Key juga membuat tulang kakinya retak, tepat di bekas tulang yang pernah patah dulu.” Jelas Raka.
“Patah?”
“Iya, patah. Emangnya loe nggak tau? Dia kan ade loe, masa nggak tau sih?”
“Cindy..!!!” Teriak Raka sambil berlari kearah Cindy yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
“Kenapa, Ka?” Tanya Cindy sambil melihat ke arah Raka yang senyum-senyum gaje.
“Malam ini jalan yuk” Ajak Raka.
“Jalan..?” Cindy tampak bingung.
“Iya, jalan. Lupa ya, hari ini hari jadian kita tepat yang ke-8 tahun.”
“Oh iya, aku lupa.” Sahut Cindy sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Yah, kok lupa sih Cin. Tapi... kita jadi kan jalan?”
“Maaf ya Ka. Aku banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan malam ini juga. Besok tugas itu harus dikumpulkan sama dosen. Jadi harus selesai.”
“Kalau gitu aku ke rumah kamu aja. Jadi, aku bisa sekalian bantuin kamu ngerjain tugas. Gimana?”
“Terima kasih udah mau ngebantu. Tapi tugas ini mau aku kerjain sendiri aja, Ka.”
“Yah.. berarti acara malam ini gagal dong Cin. Padahal aku sudah nyiapin sesuatu yang special buat ngerayain hari jadian kita ini.” Raka terlihat sangat kecewa.
“Kan besok masih bisa, Ka. Besok aja ya.”
Raka diam tidak menjawab.
“Raka, kamu kenapa? Kok kamu diam? Kamu marah ya sama aku?”
Tiba-tiba Raka meraih kedua tangan Cindy sambil menatap dalam-dalam kedua mata indah ceweknya itu.
“Kita memang pacaran kan?” Tanya Raka serius.
Mendengar itu Cindy tersenyum sambil membalas tatapan cowoknya itu sambil berkata,
“Sampai berapa kali sih kamu harus mengulang pertanyaan yang sama itu lagi. Hampir setiap tahun sejak pertama kali kita jadian kamu nanyain hal ini sama aku. Kenapa, Ka?”
“Jawab dulu pertanyaanku, Cin?”
“Iya Raka sayang, kita pacaran..” Jawab Cindy sambil tangannya mencubit kedua pipi Raka gemas.
“Aduh.. sakit Cin lepasin”
“Iya, iya. Tapi kamu harus janji. Mulai sekarang jangan tanyain hal itu lagi ya.”
“Iya, iya.” Janji Raka.
“Oh iya. Kamu mau pulang kan, Cin. Aku anterin ya..” Tawar Raka
“Nggak usah, Ka. Aku tadi bawa mobil sendiri. Nanti nggak ada yang bawa pulang kalo aku ikut kamu.
“Iya, ya. Ya udah, hati-hati dijalan ya Cin..”
“Iya,. Kamu juga, jangan ngebut.”
“He..he.. iya,ya. Tapi ngebutnya nggak janji ya.”
“Dasar tukang ngebut.. Ya udah, aku duluan ya, Ka. Bye” Pamit Cindy.
“Bye.”
“Cin..!!” Teriak Raka tiba-tiba yang spontan membuat langkah Cindy terhenti dan menoleh ke arahnya.
“Kenapa lagi, Ka?”
“I love u my angel” Kata Raka lembut.
“I love u too” balas Cindy sambil tersenyum manis.
Cindy pun pergi diiringi tatapan dan senyuman dari Raka. “Andai setiap hari senyuman itu ada untukku.” Batin Raka.
###
Malamnya dirumah Cindy.
Raka malam ini sengaja datang buat ngasih kejutan specialnya yang memang sudah dipersiapkannya sejak seminggu yang lalu. Setelah beberapa lama menunggu di depan pintu akhirnya pintu pun dibuka. Ternyata Lala, adik Cindy yang ngebukain pintu.
“Eh ada Kak Raka. Masuk kak. Sorry ya lama ngebukainnya, ngga denger tadi hehe.. ”
“Thank’s La. Cindy mana?”
“Lho, bukannya Kak Cindy pergi sama kakak tadi”
“Nggak La. Sebenarnya sih emang mau pergi, tapi kata Cindy dia ada tugas yang harus dikerjain malam ini. Jadi, dibatalin deh.”
“Tapi bener lho kak, tadi kak Cindy udah pergi. Lala kira dijemput sama Kak Raka”
“Ooh.. ya udah La. Mungkin dia pergi ke rumah temennya buat ngerjain tugas sama-sama kali. Oh iya ini. Kakak titip ini ya buat Kak Cindy” Raka menyerahkan kado yang berukuran cukup besar kepada Lala.
“Iya, Kak. Masuk dulu Kak. Disuruh masuk kok nggak masuk-masuk sih”
“Nggak usah, La. Kakak pulang aja. Lagian Kak Cindy kan nggak ada, masa kakak malem mingguan sama anak kecil.” Kata Raka.
“Anak kecil? Maksudnya aku Kak?”
“Emangnya siapa lagi”
“Ih Kak Raka nyebelin, aku kan sudah kelas 2 SMA, masa masih dibilang anak kecil sih” Lala manyun.
“Hahahahaha..muka kamu tuh lucu deh kalo lagi marah, pake manyun-manyun segala lagi” sahut Raka sambil mengacak-acak Rambut Cika.
“Ya Udah kalo nggak mau dibilang anak kecil nggak papa, Kakak panggil anak besar aja ya?” sambung Raka
“Ih itu kan kedengerannya aneh kak. Nggak ada kata-kata yang lebih bagus apa?”
“Nggak ada” Jawab Raka dengan ekspresi super nyebelin.
“Dasar Kak Raka nyebelin” Omel Lala.
“Hehehe.. ya udah La, Kakak pulang dulu ya. Salam buat Mama sama Kak Cindy.”
“Iya Kak. Hati-hati di jalan ya, Kak”
“Iya anak besar hehehe…”
“Sebelll…..!!!!” Teriak Lala.
Ketika mobil Raka keluar dari gerbang rumah Cindy mobilnya berpapasan dengan mobil berwarna merah yang memasuki halaman rumah Cindy. Karena penasaran siapa yang datang, Buru-buru dihentikannya mobilnya itu.
Tampak olehnya Cindy keluar dari mobil itu bersama seorang cowok. Cowok yang sudah sangat dikenalnya. Riko, mantan Cindy sewaktu mereka masih SMA. Mantan Selingkuhan tepatnya. Dengan emosi Raka pun segera turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua.
“Cindy!!” Teriak Raka.
“Raka..” Gumam Cindy tekejut melihat kehadiran Raka. Begitu pula dengan Riko yang tak kalah terkejutnya.
Bukk..
Riko langsung jatuh akibat tamparan Raka yang tepat mengenai pipi kanannya itu.
“Tenang, Ka. Biar aku jelasin. Kamu jangan salah paham dulu.” Kata Riko sambil memegang pipi kanannya yang kemerahan akibat pukulan Raka.
“Nggak ada lagi yang perlu dijelasin. Kamu mau ngejelasin apa lagi dengan dandanan kalian berdua yang seperti ini. Pantas saja Cindy menolak ajakanku untuk jalan malam ini. Ternyata ini jawabannya.”
“Tolong, Ka dengar dulu. Aku cuma nemenin Raka yang baru datang dari Aussie buat jalan-jalan. Kita kan sudah lama nggak ketemu.”
“Dengan mengorbankan hari jadian kita yang ke-8! Kamu keterlaluan Cin. Kamu sudah berkali-kali ngelakuin hal yang sama dengan orang yang sama. Kamu pikir aku nggak punya hati, Cin!”
Mendengar itu Cindy hanya bisa terdiam.
“Dan loe Rik! Nggak ada bosen-bosennya loe ya gangguin hubungan orang. Udah nggak laku loe ya. Bangsat loe Rik!” Umpat Raka sambil bersiap-siap untuk memukul Riko lagi.
“Jangan, Ka. Jangan sakiti dia.” Teriak Cindy.
Dengan terpaksa Raka pun mengurungkan niatnya untuk memukul Riko. Dia pun segera berbalik dan beranjak pergi.
“Sepertinya kali ini kita memang harus break Cin. Gue nggak sanggup lagi loe sakiti. Gue seneng kok kalo loe bahagia sama Riko” Kata Raka. Dia mengucapkannya tanpa menoleh dan setelah itu dia segera pergi meninggalkan Cindy dan Riko.
Cindy menatap kepergian Raka. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa sangat sakit. Tidak pernah sekalipun selama dia dan Raka jadian dia mendengar Raka memanggilnya dengan kata Loe. Dia tahu kali ini Raka bener-bener marah atas sikapnya.
Di sepanjang jalan pulang Raka mengendarai mobil dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Hatinya terasa sangat sakit kali ini. Bahkan lebih sakit dari biasanya.
###
Ckittttt… Dukkk..
Raka mendadak mengerem mobilnya. Ternyata mobilnya telah menyerempet seseorang. Buru-buru Raka keluar dari mobilnya.
“Loe ngga papa kan?” Kata Raka.
Ternyata yang diserempetnya itu adalah seorang gadis dengan dandanan ala punk yang tampaknya sebaya dengannya.
“Nggak papa apanya! Kaki gue luka nih!” Sahut cewek itu galak.
“Ya udah, sini ikut gue. Kita ke rumah sakit.” Ajak Raka.
“Nggak ah. Gue benci sama rumah sakit. Gue nggak mau kesana!” Tolak cewek itu masih dengan ekspresi galaknya.
“Pokoknya kita kerumah sakit. Gue nggak mau di cap sebagai pelaku tabrak lari. Ayo ikut gue” Paksa Raka sambil memapah cewek itu ke mobilnya.
Akhirnya cewek itu pun pasrah. Secara kakinya nggak bisa di pake buat kabur sih.
###
Di rumah sakit.
“Dokter, gimana keadaannya?” Tanya Raka ketika melihat dokter baru saja keluar dari kamar cewek itu.
“Kamu keluarganya ya?”
“Iya Dok, saya Kakaknya” Jawab Raka asal.
“Kalau bagitu kamu ikut keruangan saya”
“Baik, Dok”
Di ruangan dokter
“Sebenarnya luka yang dialaminya tidak begitu parah. Tapi setelah melihat hasil rontgen, sepertinya dulu kakinya pernah patah,Bener itu?”
“Iya, Dok. Waktu itu dia pernah jatuh dari pohon mangga waktu kecil” Jawab Raka, lagi-lagi asal.
“Pantas saja. Benturan yang menyebabkan lukanya itulah yang juga mengakibatkan tulang kakinya yang pernah patah sedikit agak retak. Jadi, dia harus dirawat disini. dan berada dalam pantauan kami karena ditakutkan akan terjadi sesuatu dengan kakinya apabila dia tidak dirawat.
“Tapi retaknya bisa sembuh kan, Dok?”
“Iya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin
“Ya udah, Dok. Rawat aja. Berapapun biayanya akan saya bayar. Permisi ya, Dok.”
“Iya”
Raka pun meninggalkan ruangan Dokter dengan langkah gontai menuju kamar tempat cewek itu dirawat.
Pelan-pelan Raka membuka pintu kamar.
“Buka aja kali. Nggak usah kaya maling gitu!” Kata cewek itu.
“Yee..enak aja bilang gue maling. Gue kan nggak mau ganggu istirahat loe.”
“Sok baik!” kata cewek itu ketus.
“Emang gue baik kok” Sahut Raka.
“Baik kok nabrak gue. Itu yang loe namain baik? Hah?”
“Ya maaf. Gue kan nggak sengaja. Gue lagi kesel..”
“Kesel kok gue yang kena dampaknya. Shit..!!”
“Kan gue sudah minta maaf. Maafin gue ya?”
“Iye, gue maafin. Lain kali kalo kesel diam di rumah aja. Jangan di jalan, ntar ada lagi orang yang loe tabrak”
“Iya, iya. Oh iya, kenalin nama gue Raka, loe?”
“Panggil aja gue Key.”
“Apa? Kunci?” Goda Raka.
“Sialan loe. Key. K-E-Y Key. Paham!”
“Iya. Gue Cuma bercanda. Galak amat sih jadi cewek.”
“Ember”
“Baskom” Sahut Raka
“Dasarrrr…” Kata Key sambil tersenyum.
“Manis juga senyumnya. Mirip kaya seseorang, tapi siapa ya?” Batin Raka.
“Hey! Ngelamun loe?” Tegur Key.
“Hehe.. nggak kok.”
“Nggak apanya. Emang tadi loe ngapain?”
“Gue ngedo’ain loe tau, supaya cepat sembuh..”
“Is that So?”
“Up to u deh”
“Hahahahahaha... ternyata loe tukang ngelamun juga ya. Jadi ingat seseorang gue”
Raka pun cuma bisa nyengir masam diketawain sama Key.
Siang itu di kamar Cindy.
Tok,tok,tok..
“Masuk, nggak dikunci” Kata Cindy.
“Lagi ngapain, Kak?”
“Eh Lala. Nggak lagi ngapa-ngapain kok La, ada apa?”
“Cuma mau ngasihin ini ke Kakak. Nih dari Kak Raka, tadi malam dia kesini nyariin kakak.”
“Raka?” Cindy mengambil kado itu dari tangan Lala.
“Iya, Kak. Dari Kak Raka. Emangnya tadi malam Kakak kemana sih? Kakak ngebohong kan sama Kak Raka?”
“Maksud kamu?”
“Kata Kak Raka tadi malam kalian nggak jadi jalan gara-gara Kakak mau ngerjain tugas kan. Karena dia memang sudah nyiapin kado ini buat kakak, jadi dia datang kesini buat ngasih surprise ke Kakak, eh Kakaknya nggak ada. Kasihan Kak Raka, sepertinya dia kecewa sekali. Untung aku nggak bilang kalo Kakak keluarnya pake baju bagus kaya orang mau malming gitu. Emangnya Kakak jalan sama siapa sih?”
“Sama Riko, La.”
“Apa! Sama Kak Riko! Gimana kalo Kak Raka sampe tau, Kak.. Aduh Kak Cindy macam-macam aja nih”
“Dia udah tau, La” Sahut Cindy lirih.
“OMG Ka.. Kasian banget Kak Raka. Lala tau kalo Kak Raka itu sayang banget sama Kak Cindy. Tapi kenapa Kakak kok tega banget nyakitin hati Kak Raka lagi. Ini sudah yang yang ke berapa kalinya kakak nyakitin Kak Raka, Kak.”
“Kamu kok jadi nyalahin Kakak gitu sih, La”
“Nggak, Ka. Aku cuma mau ngingetin Kakak aja. Coba kakak bayangin kalo kakak yang berada di posisi Kak Raka, pasti sakit kan rasanya. Iya kan, Ka?”
“Ya udah. Kamu tinggalin Kakak dulu ya. Kakak mau istirahat.”
“Iya, Ka.”
Lala memang sudah pergi dari kamar Cindy, tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang di telinga Cindy. Dalam hatinya Cindy mengiyakan semua yang dikatakan Lala. Dia baru sadar hati Raka memang sudah terlampau sakit. Dia masih ingat ketika kelas 2 SMA waktu dia pertama kali menghianati Raka. Di selingkuh di belakang Raka dengan Riko yang merupakan teman dekatnya sejak kecil. Sampai akhirnya Raka mengetahui hubungannya dengan Riko. Meskipun pada akhirnya Raka memaafkannya. Setelah Cindy datang dan memohon maaf kerumah Raka dan berjanji tak akan pernah mengulanginya lagi. Tapi janji itu hanya dimulut saja. Kenyataannya Cindy masih saja berhubungan dengan Riko dan tak jarang pula mereka “ketangkap basah” sedang jalan berdua oleh Raka. Dan lagi-lagi adegan Cindy meminta maaf pun terjadi. Tapi entah mengapa selalu ada kata maaf untuk Cindy dari Raka. Meskipun Cindy tahu betul dari sorot mata Raka yang tak bisa berbohong bahwa hatinya sangat lah terluka.
Mata Cindy tertuju pada kado yang ditinggalkan Lala tepat di hadapannya itu. Perlahan-lahan diambilnya kado itu dan dibukanya. Ternyata isinya sebuah boneka Teddy Bear berwarna putih yang sangat lucu dan dengan kartu ucapan yang berisi kata-kata tulisan tangan Raka.
Dear my angel..
Nggak kerasa sudah 8 tahun. Tetap setia ya My angel ^_^
Boneka ini namanya Cika (Cindy Raka hehe..) , dengan bulunya yang putih dia akan menemani hari-hari my angel biar selalu full of happiness (Malaikat kan suka putih.. hehe).
Senyum mengembang di bibir Cindy setelah membaca kartu ucapan dari Raka. “Sayang semuanya sudah berakhir” Gumam Cindy penuh penyesalan. Dia pun bergegas untuk membuang kertas kado itu ke bak sampah yang terletak di sudut kamarnya.
“Lho kok kaya masih ada dalamnya sih” Tanya Cindy pada dirinya sendiri sambil menggoncang-goncang bungkusan kado tersebut.
Dilihatnya kembali bungkusan kado itu. Ternyata masih ada satu benda dibawahnya. Sebuah Kado kecil tanpa tulisan sama sekali. Segera dibukanya kado itu dan betapa terkejutnya Cindy melihat isinya. Sebuah kaset tape. Cindy semakin penasaran dan segera di putarnya kaset itu di tape recorder yang selalu dibawanya untuk merekam penjelasan dosen saat dia tidak masuk kuliah.
Lagu ini aku persembahkan buat my angel yang selalu dihatiku. Cindy.
Lihat aku disini
Kau lukai hati dan perasaan ini
Tapi entah mengapa
Aku bisa memberikan maaf padamu
Mungkin karena cinta
Padamu tulus dari dasar hatiku
Mungkin karena aku berharap
Kau dapat mengerti cintaku
Lihat aku disini
Bertahan walau kau selalu menyakiti
Hingga airmataku tak dapat
Menetes dan habis terurai
Mungkin karena cinta
Padamu tulus dari dasar hatiku
Mungkin karena aku
Berharap kau dapat mengerti cintaku
Meski kau terus sakiti aku
Cinta ini akan selalu memaafkan
Dan aku percaya nanti engkau
Mengerti bila cintaku tak kan mati
Suara itu terdengar begitu merdu. Sudah lama Cindy tidak mendengar suara merdu Raka. Sejak dulu Raka memang memiliki suara yang merdu, tapi entah mengapa dia tidak pernah mau jika disuruh menyanyi. Cindy pun hanya sekali pernah mendengarnya. Itu pun baru bisa setelah dia pake acara ngancam mau ngambek kalo Raka nggak nyanyi. Waktu itu Raka nyanyiin lagunya Kerispatih yang judulnya Lagu Rindu yang membuat muka Cindy merah merona saat mendengarnya. Merdu sekali.
Suara Raka kembali terdengar setelah nyanyiannya. Suara dengan nada yang terdengar berat. Sepertinya Raka mengucapkannya dengan segenap perasaannya.
“Cin.. ini adalah jawaban kenapa selama ini aku selalu saja memaafkan kamu. Meskipun jujur, hatiku sakit, teramat sakit malah. Tapi aku yakin kalo dalam hidup ini cinta itu cuma satu. Dan bagiku kamu adalah cinta pertama sekaligus terakhir untukku.”
Cindy terdiam mendengar setiap kata-kata itu. Dia baru sadar betapa keterlaluannya dia selama ini. Dia begitu jahat pada Raka, orang yang begitu tulus mencintainya. Orang yang selalu punya senyum indah untuknya. Orang yang selalu ada saat dia butuhkan. Dan orang yang akan menghapus airmatanya saat dia sedang menangis. Perlahan-lahan butiran bening pun berjatuhan dari sudut mata Cindy. Tanpa ada yang menghapusnya.
###
“Udah gue bilang kan, kalo mau masuk jangan kaya maling!” Hardik Key dari atas ranjangnya.
“Hehehehe… gue kira loe lagi tidur,Key.” Raka nongol dari balik pintu sambil garuk-garuk kepala.
“Mana bisa tidur gue. Soalnya feeling gue mengatakan siang ini bakal ada penyusup nyebelin yang akan masuk ke kamar ini buat gangguin gue.” Kata Key super ketus.
“Lho, kok muka loe masih gitu, Key? Ngeri tau.” Kata Raka melihat dandanan muka Key yang masih sama seperti tadi malam.
“Up to me.” Jawab Key cuek.
“Tapi kan ini rumah sakit, Key. Lagian nggak cocok sama pakaian rumah sakit yang loe pake. Cuci aja deh.”
“Beneran ya nggak cocok?” Key mulai bereaksi mendengar ucapan Raka.
Ya iyalah. Lagian dandanan loe udah mulai luntur. Kaya orang jatuh di lumpur.” Bohong Raka hiperbola.
“Masa sih?” Key mulai risih.
“Beneran!” Jawab Raka meyakinkan.
“Ya udah deh. Tapi gimana gue nyucinya? Gue kan nggak bisa jalan sendiri.
“Emang loe pikir gue ngga bisa bantuin loe apa. Sini!” Raka membantu Key turun dari ranjang dan memapahnya ke kamar mandi.
“Udah cuci aja” Perintah Raka.
Tapi yang disuruh malah diam sambil ngeliat air di bak mandi.
“Di suruh cuci muka kok malah diem sih” Tanya Raka heran.
“Males megang air. Dingin kali ya.” Jawab Key.
“Ada-ada aja loe Key. Sini gue cuciin.” Raka mendekat ke arah Key.
“Eittzz.. nggak mau ah.”
“Udah, nurut aja kenapa sich. Gue bukan tukang operasi plastik yang bisa ngerubah muka loe kali, Key”
Akhirnya Key pasrah dandanan mukanya dibersihkan oleh Raka.
“Nah, selesai. Nih, keringin pake handuk” Kata Raka sambil menyerahkan handuk yang ada di kamar mandi.
“Nggak ah. Jijay, ini handuk rumah sakit kan. Pasti bekas orang.”
“Nggak, ini handuk yang baru gue beli di toko yang ada di rumah sakit ini. Pakai aja, dijamin bersih kok.”
“Oh, thank’s yah.” Key pun mengeringkan wajahnya dengan handuk yang diberikan Raka.
“Nih, sudah selesai.” Key menyodorkan handuk pada Raka.
“Oh i..ya.” Raka terpana ketika melihat wajah Key. Memang, sedari tadi dia tidak begitu memperhatikan wajah itu. Wajah Key ternyata memang benar-benar mirip sesorang. “Tapi siapa ya?” Batin Raka.
“Woy, ngelamun lagi ini orang..!!!!” Suara Key menyadarkan Raka.
“Eh, hee. Ya udah sini. Kita kembali ke ranjang.”
Raka kembali memapah Key untuk kembali ke ranjang. Sesampainya disana Key kembali rebahan di ranjang. Sedangkan Raka duduk di kursi yang terletak di samping ranjang. Raka menatap wajah yang ada di depannya itu dengan sorot mata yang tajam sehingga membuat Key risih dibuatnya.
“Kenapa sih liat-liat gue kaya gitu. Ngeri tau muka loe.” Tegur Key.
“Key. Gue sepertinya pernah liat loe. Tapi gue lupa.”
“Masa sih? Kayanya nggak mungkin deh.”
“Kok nggak mungkin Key?”
“Nggak mungkin aja. Coz gue baru aja datang kesini, itu pun Cuma buat jalan-jalan. Sampai akhirnya gue ditabrak sama loe.”
“Emangnya loe tinggalnya dimana sih?”
“Gue tinggal di Jakarta. Gue cuma jalan-jalan kok disini. Kebetulan gue lagi liburan sama band gue.”
“Loe punya band?”
“Yupz.. Masa loe nggak kenal sama gue?”
“Nggak. Emang nama band loe apa?”
“Kokain Band.”
Raka terkejut mendengar nama itu. Nama itu sangat tak asing di telinganya. Meskipun nama itu merupakan nama salah satu jenis narkotika, tapi baginya nama itu adalah sebuah nama yang tak kan pernah bisa dilupakannya. Nama singkatan antara Raka dan kedua temannya masa kecilnya, Riko dan Inez.
“Kok loe pake nama itu, Key?”
“Nggak tau. Coz pas aku sama temen-temen ngusulin nama band, nama itu terlintas di kepalaku. Untunglah nama itu disetujui sama yang lain. Lagian band kami kan aliran Rock. Jadi, ngga mungkin pake nama yang biasa-biasa aja.”
“Iya juga sih.”
“Btw, loe bawa handphone nggak?” Tanya Key.
“Bawa, kenapa emangnya?”
“Boleh nggak gue minjem. Coz gue mau ngasih kabar sama temen-temen gue kalo gue disini.”
“Oh iya, nih” Raka menyerahkan handphonenya ke tangan Key.
Jari-jari Key lincah memencet tombol nomor yang ada di handphone Raka. Sesaat terdengar nada tunggu. Terdengar suara cowok diseberang sana.
“Hallo, siapa nih?”
“Gue Key, Bas.”
“Key! Loe dimana, Key? Kami semua sibuk nyariin loe tau.”
“Gue di rumah sakit, Bas”
“Apa! Rumah Sakit! Loe kenapa Key?”
“Aduh.. kenceng amat sih loe ngomongnya. Sakit nih kuping gue dengernya”
“Hehehe.. Sorry Key. Abis gue sama yang lain panik nyariin loe. Loe dimana?”
“Gue di rumah sakit Cahaya Kasih, cepet kesini ya! Jangan lupa bawain gue makanan. Ochee!”
Klik. Key memutuskan hubungan telepon.
“Nih handphone loe. Thank’s yah”
“You’re Welcome.”
Setengah jam kemudian terdengar pintu diketuk.
Tok,tok,tok..
“Masuk aja” Kata Raka.
Ketika pintu dibuka, tampak 2 orang cewek dan 2 orang cowok yang ternyata punya dandanan sama seperti Key kemarin. Punk.
“Key! Loe nggak papa kan?” Seorang cowok dengan postur tubuh yang lumayan tinggi segera menghampiri Key.
“Nggak papa, Bas. Tulang kaki gue cuma retak kok.” Jawab Key santai.
“Apa! Cuma, loe bilang! Dasar..”
“Hehehe...” Key nyengir.
“Oh iya. Kenalin itu Raka. Dia yang udah nolongin gue kemarin waktu gue jatuh.” Bohong Key.
Raka melirik ke arah Key dengan pandangan yang aneh.
“Udah, iyakan aja. Ntar kalo Bas tau Loe yang nabrak gue, loe bakalan babak belur dibuatnya.” Bisik Key.
“Kenapa sih bisik-bisik?” Selidik Bas.
“Ah nggak papa kok. Cuma ngasih tau dia aja supaya hati-hati sama loe, loe kan galak hee..” Elak Key.
“Bukannya loe yang paling galak. Dasar.. nih makanan loe” Bas menyodorkan tas plastik hitam kepada Key.
“Asyik. Nasi padang kan?”
“Ya iyalah. Apa lagi coba selain dari itu. Entar ujung-ujungnya loe nggak mau makan lagi. Kalo sakit kan loe suka pilih-pilih makanan.”
“Tepat sekali. Makasih ya, Bas..”
“Oh iya, sebelum gue makan kenalin, Ka. Ini temen-temen gue. Cewek yang putih itu namanya Letta,orang cina dia tuh, jadi kalo ngomong loe nggak usah pake ‘r’. Dia pianis di band kita.” Raka melihat ke arah cewek yang ditunjuk Raka, dia tersenyum manis sambil mengangguk. “Biar punk ternyata dia manis juga” Batin Raka.
“Terus disebelahnya yang hitam manis itu namanya Mikha. Dia basis.” Mikha tersenyum pada Raka, tapi ekspresinya terlihat kaku, tampaknya cewek satu ini gayanya memang kaku dan cuek.
“Yang gembul itu namanya Robb. Sebenarnya sih Robby namanya. Dia orang betawi asli. Kalo ngomong logatnya aja betawi kental. Gayanya aja yang kaya bule. Dia drummer, cocok kan drum sama perutnya hehehe”
“Sakit aje masih ngata-ngatain gue loe ye. Dasar.. ntar kalo sudah sembuh gue dudukin loe biar tau rasa.” Ancam Robb. Yang disambut dengan tawa oleh Key dan yang lain. Tampaknya kejadian ini sudah sering terjadi antara Robb dan Key.
“Nah, yang terakhir. Yang paling ganteng itu gitaris, sama kaya Bas. Namanya Mike dia barang impor di band. Di impor langsung dari Aussie lho hee..” Mike hanya mengangguk pada Raka. Berbeda dengan Raka yang bereaksi ketika mendengar Key menyebut Aussie. Dia seperti
Sementara Key makan, Bas mengajak Raka keluar kamar untuk berbincang-bincang.
“Terima Kasih banyak ya, Ka. Loe udah nolongin Key.”
“Sama-sama Bas.” Jawab Raka. Dia agak risih dengan gaya Bas yang menurutnya serem itu.
“Loe tau nggak. Gue takut banget kalo sampai harus kehilangan Key. Dia kan ade gue. Sejak kecil kami selalu sama-sama, bahkan sampai sekarang. Dia itu anaknya emang nggak bisa diam. Maunya gerak terus. Hiperaktif. Kemarin waktu dia hilang gue santai aja, tapi setelah jam 11 malam gue mulai khawatir. Makanya gue nyari-nyari dia sama temen-temen, gue bela-belain nggak tidur tadi malam buat nyari dia sampai tadi. Untung dia cepet ngabarin, kalo nggak rencananya kami mo lapor polisi.”
Raka Cuma bisa mengganguk-anggukan kepala mendengar celotehan Bas. “Jadi nggak enak udah bohong, padahal kan aku yang nabrak Key” Batin Raka.
“Tapi tenang Bas, yang penting kan sekarang Key udah aman. Meskipun ada sedikit masalah sama kakinya.”
“Apa kata dokter tentang kakinya?” Tanya Bas khawatir.
“Kata dokter mungkin sebelumnya tulang kaki Key pernah patah dan benturan yang melukai kaki Key juga membuat tulang kakinya retak, tepat di bekas tulang yang pernah patah dulu.” Jelas Raka.
“Patah?”
“Iya, patah. Emangnya loe nggak tau? Dia kan ade loe, masa nggak tau sih?”




0 komentar:
Post a Comment
^_^