Singkat cerita, beberapa bulan kemudian orang itu comment di status yang Deff buat. Pada awalnya sih cuma bercanda seperti teman-teman Deff yang lain, hingga akhirnya dia pun minta Deff buat ngeliat salah satu tulisan yang dia buat. Katanya, “Menurut kamu itu sesat, nggak?” Deff sempat mikir kalo permintaannya itu agak sedikit aneh, begitu pula dengan pertanyaannya. Sempat terpikir oleh Deff, “Kenapa dia meminta hal itu pada Deff yang notabene bukanlah orang yang dia kenal? Bukankah untuk permintaan itu seharusnya hanya bisa diminta pada orang yang benar-benar dia tahu siapa orang itu dan apakah orang itu bisa menjawab pertanyaannya? Mungkinkah.. dia..??” Tapi akhirnya Deff bilang, “Ntar aku liat dulu, ya”.
Sejak saat itu Deff pun mulai sering membuka profilnya untuk melihat dan mengamatinya. Dari info, status, dan tulisan, Deff amati satu persatu dengan cermat. Hingga akhirnya Deff pun menarik sebuah kesimpulan bahwa dia adalah seorang penyair. Lebih tepatnya seorang penyair yang tidak biasa. Puisinya bukan hanya indah, tapi maksud dari puisinya itu selalu tampak seperti mata anak panah di mata Deff. Punya sasaran yang dimaksud oleh sang pemanah. Dan maksudnya bukanlah hal yang bisa dianggap sebelah mata. Bahkan ada beberapa yang memerlukan pemahaman yang sangat sulit. Deff pun sampai harus berulangkali membacanya untuk memahami maksud yang ingin dia sampaikan. Dia seringkali menggunakan bahasa yang terlalu ‘tinggi’, namun selalu dipenuhi keindahan. Pola pikirnya pun menunjukkan bahwa dia bukanlah orang biasa. Di satu sisi dia adalah penyair, tapi di sisi lain dia sepertinya juga orang yang menganut paham yang kuanut. Tapi penyair lebih mendominasi hidupnya.
Khalil/Kahlil Gibran, Jalaludin Rumi, dan Syeikh Siti Djenar adalh orang yang dia kagumi. Dua orang pertama, mereka adalah penyair, sedangkan yang terakhir pada awalnya aku hanya pernah mendengar namanya tapi tak tahu siapa dia. Terbit dari rasa ingin tahu lah akhirnya Deff temukan tentangnya. Disinilah timbul suatu kebingungan akan sisi lain lagi dari penyair ini yang Deff sendiri tak mampu membuatnya menjadi satu kalimat pun, entah itu sebuah pernyataan maupun pertanyaan. Deff tidak mampu. Meski ditanyakan sekalipun Deff tak akan bisa menjawab.
Sayangnya pula hingga kini tulisan itu belum pernah Deff liat sama sekali. Alasannya sederhana, Insting Deff sepertinya tak mengijinkan untuk hal itu. Setidaknya untuk sekarang. Karena seorang Deff percaya bahwa insting bukanlah hal yang biasa dan bisa diremehkan, karena dia seperti sebuah lonceng.




0 komentar:
Post a Comment
^_^