“Oh iya, mungkin gue lupa. Coz udah lama banget.” Jawab Bas. Tapi melihat ekspresinya yang agak aneh Raka curiga, sepertinya ada yang disembunyikan.
“Oh iya, kita ke kamar Key lagi yok!” Ajak Bas.
“Oh, iya, Ayo.”
Sesampainya di kamar Key.
“Loe apain aja anak orang Bas, lama banget?” Tanya Key.
“Gue makan! Yaiyalah nggak gue apa-apain, segar bugar gitu masih. Gue cuma ajak dia ngobrol kok.”
“Kirain..Loe apa-apain. Tenang Bas, sekarang loe nggak perlu turun tangan lagi. Lagian gue kan sekarang udah ban hitam karate. Udah jago gue.”
“Jago sih jago Key, tapi kalo kaki loe kaya gitu sih ngelawan ayam aja loe kalah.”
“Hehehe.. emangnya gue mau ngelawan ayam, itu kan musuh bebuyutan loe, Bas.” Sela Key sambil ketawa diiringi teman-teman yang lain.
“hahahaha.. ternyata loe masih aja ya, Bas musuhan sama ayam. Lucu banget sih loe.” Sambung Letta.
“Berisik loe pada. Gue kan masih trauma.” Sahut Bas.
“Trauma? Baru tau gue kalo loe takut sama ayam gara-gara trauma, trauma kenapa, Bas?” Tanya Robb.
“Dia waktu kelas 3 SMP pernah dikejar sama induk ayam gara-gara gangguin anaknya masih kecil. Terus waktu dikejar kakinya kesandung batu. Jatuh deh, jidatnya luka kena batu juga. Abis itu di patok ayam yang tadi lagi kakinya. Kasihan, habis jatuh terpatok ayam hahahaha…” Kata Key.
Semua yang di kamar itu tertawa mendengarnya, termasuk Raka. Kecuali Bas yang Cuma senyum-senyum masam dibuatnya. “Shit, gue jadi objek yang dikenakan.” Gerutunya dalam hati.
###
Di kamar Raka
Raka sedang melamun sambil menatap langit malam dari balkon kamarnya yang terletak di lantai dua rumahnya. Begitu asyiknya dia melamun sampai-sampai tidak sadar kalau Mamanya sudah berdiri di belakangnya sejak tadi. Sebagai seorang ibu, kalau melihat anak semata wayangnya itu melamun dia bisa mengerti bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran anaknya itu. Perlahan di dekatinya anaknya itu.
“Raka..” Tegurnya.
“Eh Mama.. kenapa, Ma?” Raka tampak terkejut dengan kehadiran Mamanya.
“Seharusnya Mama yang nanya sama kamu. Kamu kenapa, Nak?”
“Nggak kenapa-kenapa kok, Ma. Cuma ngeliat langit aja.”
“Bener…???”
“Bener, Ma.” Jawab Raka ragu.
“Raka anak mama.. dari kecil Mama nggak pernah ngajarin kamu buat bohong sama mama.”
“Aku nggak bohong kok, ma”
“Kamu pikir mama nggak tahu. Mama tahu kok kalo kamu lagi ngeliat bintang, mata kamu juga melihat kea rah sana, tapi hati kamu tidak kan… Ada apa, Nak?”
“Ngg.. nggak papa, Ma.”
“Ya udah kalo ngga mau cerita sekarang nggak papa, tapi nanti harus cerita ya. Siapa tahu mama bisa membantu.”
“Iya, Ma.”
“Oh iya, teleskop kamu mana?”
“Teleskop??”
“Iya teleskop, kamu taruh dimana?”
“Oh iya, Raka baru inget. Tuh diatas lemari.” Jawab Raka.
“Kok ditaruh disitu?”
“Males aja,ma.”
Mama menghela nafas pelan.
“Melihat kamu disini melihat bintang, entah kenapa mama jadi keingetan sama Inez. Dulu kan kamu sering ngeliat bintang sama dia disini. Entah kenapa sampai sekarang hati mama selalu mengatakan bahwa Inez masih hidup. Dan suatu saat dia akan datang lagi ke rumah ini. Bermain bersama kamu, makan kue buatan mama, dan menyanyi dengan suaranya yang keras itu. Mama sedih kalo ingat dia.” Kata mama Raka, Nampak matanya mulai berair.
“Ma, mama jangan sedih gitu dong, aku kan jadi sedih juga. Meskipun mayat Inez nggak ditemukan, kecil sekali kemungkinan dia selamat. Karena pesawat itu jatuh dan meledak sesaat sebelum jatuh di laut. Bahkan dari korban yang ditemukan ada beberapa yang sulit diidentifikasi karena mayatnya hancur akibat ledakan. Jadi meskipun dengan berat hati, bisa saja Inez ada diantara mereka,ma. Jadi, relakan saja kepergiannya. Raka yakin, sekarang Inez sedang bahagia di surga.”
“Amin.” Kata mama Raka.
“Ya udah, Nak. Masuk gih. Sudah malam banget, ntar kamu masuk angin.”
“Iya, Ma.” Kata Raka. Sebelum masuk di lihatnya balkon rumah sebelah yang tepat berada diseberang kamarnya. Balkon kamar Inez. Dan masih tampak jelas dalam ingatannya Inez berdiri disana sambil melihat bintang dengan teleskopnya. “Sayang, semuanya tinggal kenangan saja” Batin Raka. Akhirnya Raka pun masuk dan menutup pintu.
###
“Taraaa…!!!! Liat apa yang gue bawa.” Raka nongol dari balik pintu dengan tiba-tiba sehingga membuat Key terkejut setengah mati karenanya.
“Kamprett loe, Ka! Nongol tiba-tiba gitu. Bikin gue kaget setengah mampus aja loe! Untung gue ngga punya penyakit jantungan.” Omel Key.
“Hehehe.. kan kata loe kalo masuk jangan kaya maling, jadi gue masuknya kaya gini deh.”
“Iye nggak kaya maling, tapi kaya rampok. Bikin hampir copot gue punya jantung aja loe!” Key sewot.
“Iyeee.. maaf, maaf. Serba salah gue jadinya.”
“Emang loe salah. Biasa aja kenapa sih.”
“Iya, iya. Nih gue bawain nasi padang, loe suka kan.”
“Wahhh.. baik juga loe ya. Kebetulan Bas hari ini datangnya siang. Ada urusan katanya, yang lain juga. Berhubung gue males makan makanan rumah sakit, jadi gue nggak makan deh, padahal gue laper banget. Untung loe datang, makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
“Gue makan ya..”
“Iya, makan aja.”
Key pun menikmati makannya dengan lahap.
“Key..” Panggil Raka.
“Opo..?” Sahut Key tanpa menoleh dengan mulut yang penuh makanan.
“Bas itu kakak loe ya?”
“Iya, emangnya kenapa?” Tanya Key masih asyik dengan makanannya.
“Kok dia nggak tahu sih kalo kaki loe pernah patah sebelumnya.”
“Patah? Maksud loe?” Tanya Key heran.
“Iya, kata dokter sepertinya kaki loe pernah patah sebelumnya. Jadi, pas gue bilang sama Bas, eh dia nggak tahu. Kan aneh, secara loe kan adenya. Masa nggak tahu.”
“Tapi gue juga nggak tahu kalo kaki gue pernah patah sebelumnya, Ka.”
“Maksud loe?”
“Ya, gue nggak tahu. Swear deh!” Kata Key.
“Masa sih? Mungkin loe lupa kali, Key?”
“Mungkin juga.”
“Kok mungkin sih, Key?”
“Yah mungkin saja, soalnya aku juga nggak ingat sama sekali.”
“Kok bisa?”
“Ada banyak hal di dalam hidup gue yang sulit buat gue inget. Lagian gue bosan mikirin hal itu. Buat apa juga gue ingat-ingat lagi, nggak ingat-ingat juga. Bikin pusing.” Kata Key. Dia pun meneruskan makannya lagi.
Raka pun diam dan tak lagi bertanya meskipun hatinya masih saja penasaran.
###
Malamnya di rumah Raka.
Raka sedang duduk di ruang tamu ketika terdengar suara mama memanggilnya.
“Raka…!!!!!! Ada tamu…!!!!”
“Siapa, ma?”
“Kesini, Raka..!!!!!”
“Iya,ma. Iya,ma.” Raka pun bergegas pergi ke depan pintu.
Ternyata di depan pintu telah berdiri Lala. Iya, Lala. Adik Cindy.
“Oh kamu, La. Masuk.” Kata Raka mempersilahkan.
“Nggak usah, Ka. Lala cuma nyampein ini ke kakak, dari Kak Cindy.” Lala menyodorkan sebuah surat dengan amplop pink kepada Raka.
“Ini apa ya La?”
“Baca aja kak. Oh iya, menurut aku kak Raka sama kak Cindy harus ngomong deh. Sepertinya kak Cindy sangat terpukul sama kejadian beberapa hari yang lalu, Kak.”
Raka hanya bisa terdiam mendengarnya.
“Oh iya, Kak. Aku pulang ya.” Pamit Lala.
Raka hanya memandang kepergian Lala dari hadapannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pikiran bercampur aduk. Segera dibukanya surat itu.
Dear Raka..
Sorry kalo aku lancang ngirim surat ini ke kamu. Aku tahu aku tak berhak lagi melakukan ini. Tapi aku cuma mau bilang maaf. Maafin semua kesalahanku selama ini sama kamu. Meskipun aku ragu masih ada kata maaf dihati kamu buat aku. Tapi aku akan terima apapun jawabannya. Karena Aku tahu aku egois. Aku tak pernah sedikitpun memikirkan perasaan kamu. Aku cuma bisa nyakitin kamu. Aku ngga pantas lagi menerima kata maaf dari kamu. Tapi aku mohon, untuk yang terakhir kalinya. Aku harap kamu sudi buat maafin aku.
Oh iya, terima kasih atas suara indahmu. Meskipun mungkin itu adalah nyanyian terakhir untukku. Nyanyian yang membuat aku sadar siapa kamu sesungguhnya buat aku. Cowok paling baik di dunia ini yang tak pantas bersama seorang penghianat sepertiku. Terima kasih banyak atas semuanya.
Best Regards
Cindy
Raka menghela nafas panjang setelah selesai membacanya. Meskipun hatinya sudah teramat sakit karena Cindy, namun entah kenapa ada krasa kasihan di hatinya pada Cindy. Dulu saat dia berbuat kesalahan pada Raka, Cindy akan langsung datang dan meminta maaf pada Raka. Tapi berbeda dengan kali ini. Cindy hanya mengirim surat. Apa mungkin dia merasa tak pantas lagi berdiri di depan Raka. Raka memperhatikan lagi surat yang ada di tangannya itu. Ada beberapa tulisan yang tintanya agak pudar seperti terkena air. Tampaknya Cindy menangis sambil menulisnya. “Benar apa yang dikatakan Lala, sepertinya aku memang harus menemui Cindy. Tapi tidak sekarang” Pikir Raka.
###
Siang itu di rumah sakit.
“Lepasin, Bas. Gue nggak mau disini. Gue mau pergi, gue udah sehat.” Teriak Key berusaha melepaskan diri dari Bas.
“Loe harus tetep disini, Key. Loe belum boleh pulang sama dokter.”
“Loe kan tahu kalo gue benci sama tempat ini!!! Lepasin!!!”
Tiba-tiba Raka datang dan terkejut melihat apa yang terjadi.
“Kenapa ini, Bas?” Tanya Raka panik.
“Udah loe panggilin dokter aja. Bilang kalo dia ngamuk. Cepetan.”
“O.K, Bas.” Raka pun segera berlari memanggil dokter.
Tak berapa lama dia kembali dengan dokter dan seorang suster. Dengan sigap dokter pun segera menyuntikkan obat penenang pada Key.
“Biarkan dia istirahat dulu, kalo ada apa-apa lagi, cepat hubungi kami ya.” Kata Dokter.
Bas hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan mendengar ucapan dokter.
“Hufftt.. akhirnya tenang juga. Cape gue nanganin dia dari tadi, untung loe datang. Thank’s ya, Ka.”
“Sama-sama, Bas. Kenapa sih dia?”
“Tahu dari tadi pagi dia ngeluh kalo kepala sakit banget katanya. Sudah dikasih obat sih, tapi masih aja. Bingung gue. Terus gue suruh istirahat, eh tiba-tiba dia malah teriak-teriak minta pulang. Ya nggak gue bolehin lah, eh malah tambah histeris.”
“Oh iya, gue baru ingat. Key nolak waktu mau gue bawa ke rumah sakit waktu itu. Katanya dia benci rumah sakit. Tapi tetep gue paksa, untung dia nurut aja.”
“Sebenernya sih gue tahu kalo dia benci rumah sakit. Gue juga heran waktu pertama kali datang kesini. Kok bisa ya, dia mau aja dirawat disini.”
“Ooh jadi loe udah tahu, Bas. Terus?”
“Terus apanya?” Tanya Bas balik.
“Kenapa dia jadi benci rumah sakit?”
“Nggak papa kok, ada something aja yang kayanya nggak perlu gue ceritain sama loe.” Jawab Bas dingin sehingga membuat Raka semakin penasaran.
Setelah itu suasana berubah hening sampai akhirnya teman-teman Key dan Bas datang.
“Hei, Bas, Raka” Sapa Mikha dengan senyum khasnya yang kaku.
“Hei juga..” Jawab Bas dan Raka hampir bersamaan.
“Gimana nih keadaan Key?” Tanya Mike.
“Parah.” Jawab Bas.
“Maksud loe?”
“Iya, parah. Dia ngamuk-ngamuk minta pulang.”
“Terus dibolehin sama dokter?”
“Ya nggak lah. Coz tadi pagi waktu gue Tanya kapan dia boleh cabut dari sini, kata dokter dia baru boleh pulang seminggu lagi. Katanya Takut terjadi apa-apa kalo dia diluar rumah sakit.”
“Terus gimana kondisi dia sekarang, baik kan?” Tanya Mikha khawatir.
“Yeah.. seperti yang loe liat, Mik. Dia baik habis disuntik obat penenang sama dokter. Nggak tahu deh gue kalo efek obatnya sudah habis. Jangan-jangan ngamuk lagi dia minta keluar.”
“Terus gimana, Bas? 3 hari lagi kan kita mo konser. Kalo kondisi dia kaya gini kita nggak bakalan bisa tampil.”
“Tenang, tadi malam gue udah dapat kabar dari Mama. Dia kan ada di sumedang buat ngurus semua keperluan kita nanti. Katanya penampilan kita diundur satu minggu sama yang ngundang coz tempat konsernya mo dipake buat acaraaa… ah lupa gue acara apa, yang penting diundur deh. Masalah pengunduran dan apa-apanya sudah diurus sama Mama. Makanya tadi mama tuh nelpon sekalian mo bilang kalo dia juga mo balik ke Jakarta dulu. Kata Mama, hati-hati di Bandung. Jangan nakal!! Jangan Jajan sembarangan, Jangan bla,bla,bla,bla,bla..pokoknya macem-macem deh petuahnya.”
“Hahahaha… Mama tuh emang overprotektif banget yah. Nggak cukup apa sudah hampir tiap hari sms kita-kita buat ngasih tahu ini-itu. Gue aja hari ini udah 3 kali dapet sms dari mama, isinya ya nggak jauh-jauh dari nasehat.”
“Tuh tandanya Mama sayang sama kita, dodol!!” Kata Mikha sambil menoyor kepala Mike.
“Sialan loe, Mik.” Sungut Mike. Sedangkan Mikha kembali dengan ekspresi cueknya masang tampang tanpa dosa.
“Terus rencana loe gimana, Bas?” Tanya Robb.
“Rencana apa?”
“Tuh si Key. Dia mo keluar dari sini kan.”
“Iya nih, gue juga bingung. Dari tadi gue juga udah mikir. Tapi ngga ada satu pun ide yang muncul di kepala gue. Mudahan-mudahan dia tidur lamaan dikit. Jadi, pas dia bangun gue udah dapat ide. Btw loe semua ada ide juga nggak?
“Nggak ada, Bas.” Jawab mereka serempak.
“Ceileee.. kompak banget jawabnya, serasa komandan gue jadinya n’ loe semua prajuritnya pastinya..hehehe.”
“Dasalll loe Bas, sempet-sempetnya aja belcanda disaat-saat sepelti ini.” Kata Letta.
“Dasarrr kali Let..” Ejek Bas. Sehingga membuat Letta manyun.
“Gue punya ide kok.” Kata Raka tiba-tiba membuat semua yang ada disitu spontan melihat ke arahnya.
“Apa?” Tanya Bas.
“Gimana kalo dia kita bawa ke rumah gue aja. Rumah gue nggak terlalu jauh kok dari rumah sakit ini. Lagipula kalo ada apa-apa kan bisa cepat dibawa kesini lagi. Gimana?”
“Bener juga apa kata loe. Tapi, ntar ngerepotin loe lagi.”
“Nggak papa, Bas. Lagipula ada mama yang bisa bantuin jagain dia. Cuma seminggu kan nggak lama juga.”
“Ya udah deh. Thank’s banget ya. Kalo gitu gue urus dulu ke dokternya, yuk mike temenin gue.”
“O.K” Sahut Mike. Berdua dengan Bas mereka pun pergi ke ruangan dokter.
Tak berapa lama mereka pun kembali dengan beberapa orang suster. Permohonan untuk rawat jalan ternyata disetujui oleh dokter meskipun sempat terjadi perdebatan antara ketiganya di ruangan dokter. Hari itu juga Key akan dibawa kerumah Raka.
Sesampainya dirumah mama Raka sudah menunggu untuk menyambut kedatangan mereka karena sewaktu masih di rumah sakit Raka sudah memberi kabar lewat telepon tentang hal ini. Tampaknya dari ekspresi wajahnya mama Raka sempat terkejut melihat dandanan Bas dan kawan-kawan. Tapi untungnya mama tidak menanyakan hal itu pada Raka, dengan sigap dia membantu membawa Key ke kamar atas yang memang sudah disiapkannya sedari tadi.
“Biarkan saja dia istirahat dulu. Yuk kita ke bawah.” Mama Raka mengajak mereka semua untuk pergi keruang tamu yang terletak di lantai satu.
“Silahkan duduk. Oh iya, kalian mau minum apa? Pasti capek kan?”
“Nggak usah repot-repot tante.” Kata Bas sungkan.
“Nggak ngerepotin kok. Kalo gitu sebentar ya. Bibi kesini..” Panggil mama.
Tampak Bi Wati pembantu raka datang dari arah dapur dan segera menghampiri mama.
“Bikinin jus jeruk ya buat mereka semua.”
“Baik, Bu.” Kata Bi Wati.
“Oh iya, ngomong-ngomong ini temennya Raka dari mana ya? Kok tante baru pernah lihat.” Kata Mama Raka pada Bas dan teman-temannya.
“Kami dari Jakarta tante. Kebetulan kami lagi liburan disini. Eh nggak taunya ade saya yang tadi jatuh, tulang kakinya retak. Untung ada Raka yang nolongin.”
“Oohh.. kok Raka nggak cerita sih kalo nolongin orang..?” Kata Mama lagi sambil melirik ke arah Raka.
“Nggak, Ma. Raka Cuma takut mama khawatir.” Jawab Raka.
“Ya udah. Nanti aja kamu ceritain sama mama selengkapnya. Oh iya, Kayaknya mama pernah liat kalian deh. Kalian ini Kokain Band ya?” Tanya mama Raka ragu.
“Iya tan, kok tahu?” Jawab Raka.
“Wah.. Kebetulan, Tante fans kalian lho. Hehehe… Nanti minta tanda tangan, ya!” Kata mama Raka kesenengan.
Mendengar itu Bas dan temen-temen cuma bisa nyengir. Sedangkan Raka speechless, nggak nyangka kalo Kokain band salah satu band terkenal dan yang bikin dia lebih shock ternyata mama fansnya mereka. “Kok bisa,ya?” Batin Raka.
“Aduh.. kalian biasa aja dong mukanya. Tante kan jadi malu. Emang aneh ya?”
“Ah,nggak kok tan. Kaget aja. Nggak nyangka tante fans kami juga. Bener nggak friends?” Kata Bas
“Bener banget.” Sahut Mikha diiringi anggukan kepala dari yang lain.
“Yah.. dari dulu tante memang suka semua jenis musik. Tapi paling sukanya ya musik rock. Tante punya banyak koleksi lagu-lagu rock dari dalam maupun luar negeri. Ada kaset,VCD, DVD, bahkan piringan hitamnya juga ada lho.”
“Wahh.. kerennnn… Jadi pengen lihat nih, Tan!!!!” Kata Mikha antusias. Nggak biasanya, biasanya kan cuek.
“Boleh, boleh. Ayo ikut tante.”
Mereka pun mengikuti mama Raka menuju ruang kerjanya.
“Nahhh… selamat datang di ruang kerja saya.”
“Lho, koleksinya mana tante?” Tanya Mike sambil melihat ke sekeliling ruangan.
“Di tempat rahasia dong. Sebentar ya.” Mama Raka berjalan menuju Rak buku yang terletak di sudut ruangan. Lalu didorongnya rak buku tersebut kedalam sehingga tampaklah sebuah pintu yang menghubungkanruangan itu dengan sebuah ruangan di dalamnya.
“Yuk,masuk.” Ajak Mama Raka.
“Beneran boleh tante, ini kan tempat rahasia tante?”
“Gayanya aja tempat rahasia, sebenarnya sih bukan. Soalnya semua orang di rumah ini tahu kok tempat ini, kecuali Raka.”
“Wah mama curang. Kok aku nggak pernah dikasih tahu sih.” Kata Raka cemberut.
“Tempat ini dulunya memang sengaja dibuat khusus untuk menyimpan semua koleksi mama dan dulunya juga nggak tersembunyi seperti ini. Tapi berhubung kamu kan anaknya bandel banget jadi tempat ini terpaksa deh disembunyiin. Daripada kamu acak-acak. Apalagi dulu kan kamu hobby banget mengacak-acak semua barang yang ada di rumah. Duet sama In-nez.” Tampak raut muka mama Raka berubah sedih saat mengucapkan nama yang tadi diucapkannya dengan ragu di akhir kalimat.
“Tuh kan mama. Nggak usah di inget-inget lagi. Ya udah, mama istirahat aja ke kamar, biar Raka aja yang nemenin mereka liat koleksi mama.”
“Iya, Ka?” Kata mama Raka. Dia pun beranjak meninggalkan ruangan itu masih dengan ekspresi sedihnya.
“Kenapa sih mama loe, Ka?” Tanya Letta.
“Nggak papa kok.”
“Ngga papa apanya. Tiba-tiba jadi sedih kaya gitu. Kenapa sih?” Selidik Mike.
“Mama Cuma keingatan sama temen aku. Dia dekat banget sama keluarga kami dari kecil soalnya rumah kami bersebelahan dan mamanya juga teman mamaku”
“Terus kok bisa sedih gitu sih?”
“Ya mama sedih aja soalnya temen aku itu kecelakaan pesawat beberapa tahun silam dan sampai sekarang nggak pernah ditemukan. Kemungkinan dia sudah meninggal, soalnya banyak mayat yang nggak bisa diidentifikasi karena udah hancur. Tapi entah kenapa mama masih ngerasa kalo Inez masih hidup dan dia akan kembali lagi ke rumah ini.”
“Sebentar, Ka. Tadi loe bilang Inez kan? Namanya Inez?” Tanya Mike.
“Iya, namanya Inez.”
“Nama lengkapnya?”
“Nezitta Olivia Veronica. Kenapa Mike, loe kenal?” Tanya Raka heran.
Sekilas Mike tampak terkejut mendengar nama itu.
“Nggak, gue nggak kenal kok. cuma nanya aja.”
“Beneran loe nggak kenal? Kalo nggak salah kata Key loe dari Aussie kan? Temen gue itu tinggal di Aussie sebelum kecelakaan terjadi, waktu itu dia dalam perjalanan menuju ke sini buat liburan.”
“Nggak, mirip sama temen gue aja namanya. Tapi ternyata beda, ya udah pengen liat koleksi nyokap loe nih. Ayo!” Ajak Mike.
Mereka pun segera memasuki ruangan itu. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh mama Raka, disana banyak sekali koleksi-koleksi yang berbau rock. Kalo dilihat-lihat ternyata Mama Raka memang fans fanatik. Karena selain kaset,VCD, DVD, dan piringan hitam masih banyak lagi benda-benda lain yang merupakan atribut-atribut serta aksesoris yang dipakai oleh penyanyi atau band yang bersangkutan termasuk foto-foto. Mereka semua sampai terkagum-kagum melihatnya, kecuali Raka yang memang tidak tahu menahu tentang hal-hal yang berbau rock. Pantas saja dia tidak kenal dengan grup band Kokain. Setelah puas melihat-lihat mereka pun kembali ke kamar tempat Key berada.
Sesampainya disana Bas segera menghampiri Key. Dilihatnya adiknya itu, tampak jelas kekhawatiran di wajahnya.
“Oh iya, loe semua nggak ada yang ngasih tahu hal ini sama mama kan?” Tanyanya.
“Nggak lah, Bas. Kami kan tahu kalo mama nggak bisa denger hal-hal kaya gini. Dia pasti khawatir banget, ntar darah tinggi lagi.” Jawab Mikha.
“Sip deh kalo kaya gitu. Oh iya, udah sore, Ka. Kami pulang dulu ke rumah.” Pamit Bas.
“Nggak nginap disini aja?”
“Nggak usah, ntar tambah ngerepotin. Lagian kami tinggal di rumah tante gue juga kok disini. Titip Key ya, Ka.”
“O.K. deh.”
Raka mengantarkan Bas dan teman-temannya sampai pintu gerbang. Kebetulan mereka bawa mobil sendiri, jadi Raka tidak perlu lagi mencarikan taxi buat mereka. Setelah mereka pergi Raka pun masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamar Key.
Dihampirinya Key yang masih tertidur di ranjangnya. Dilihatnya wajah gadis di depannya itu. Dia sangat yakin wajah di depannya itu memang mirip seseorang, tapi entah kenapa dia sulit sekali mengingatnya. Tiba-tiba Key terbangun.
“Gue dimana..?”
“Loe di rumah gue, Key.”
“Apa! Kok bisa?” Tanya Key spontan dia pun bangun dari tempat tidurnya.
“Iya, loe kami bawa kesini. Abis loe pake ngamuk-ngamuk segala sih minta keluar dari RS, kenapa sih loe pake ngamuk-ngamuk segala?”
“Tau juga gue pengen keluar tapi Bas ngelarang gue, kepala gue pusing banget. Gue kalo di RS tuh seperti ingat sesuatu. Kan udah gue bilang, gue benci rumah sakit.”
“Ya udah, yang penting sekarang loe udah ada di rumah gue. Gimana, merasa enak?”
“no comment deh. Gue kan baru aja bangun.”
“Iya, ya. Tapi gue yakin kok, loe pasti betah tinggal disini. Rumah gue kan bagus hehehe..”
Tiba-tiba mama Raka datang sambil membawa nampan berisi makanan.
“Eh, sudah bangun tenyata. Init ante bawain makan siang buat kamu. Siapa namanya?”
“Key, tante. Keynitta Asyca Verla.”
“Nama yang cantik, secantik orangnya.” Kata mama Raka sehingga membuat Key tersipu malu.
“Oh iya silahkan dimakan. Disini nggak usah malu-malu. Anggap saja rumah sendiri.”
“Iya, Tante. Makasih.”
Sementara Key makan mama Raka mengajak Raka keluar kamar untuk berbicara.
“Raka, sekarang kamu ceritain kejadian sebenarnya sama mama. Cerita yang bener, ya! Jangan ada yang ditutup-tutupin!”
“Iya, ma.” Raka pun menceritakan kejadian sebenarnya dari awal sampai akhir sementar mamanya mendengarkan dengan seksama.
“Oohh.. gitu ya.” Kata mama Raka setelah Raka mengakhiri ceritanya.
“Terus, kenapa cerita kamu jadi beda sama cerita siapa ya namanya tadi?” Kata mama Raka berusaha mengingat-ingat.
“Bas, ma.”
“Iya, si Bas. Kok beda ceritanya? Kenapa?”
“Ini akal-akalannya Key, Ma. Dia yang ngarang cerita itu buat ngebohongin Bas. Dia takut kakaknya itu bakal marah dan mukulin Raka kalo dia sampai tahu kalo Raka yang nabrak adenya.”
“Yah, tetep aja itu namanya ngebohong Raka. Mama nggak pernah ngajarin kamu buat bohong kan dari kecil. Jangan diulangi lagi !!” Kata mama Raka tegas.
“Iya, Ma.” Sahut Raka pelan sambil menunduk karena merasa bersalah.
“Ya, udah, yuk kita masuk lagi.”
Mereka pun kembali masuk ke kamar Key.
“Key, sudah selesai,ya makannya?
“Sudah, Tan.”
“Kok nggak diabisin?”
“Udah kenyang, Tante.”
“Oh ya udah, sini nampannya. Tante ke dapur dulu, ya.”
“Iya, Tante. Makasih ya, Tan.”
“Sama-sama. Ka jagain Key, Ya.”
“Iya, Ma.”
###
Tak terasa sudah empat hari Key tinggal di rumah Raka. Meskipun beberapa hari ini dia hanya diam di kamar dan melakukan semua kegiatan dengan dibantu Raka dan mamanya. Terkadang Bas dan teman-temannya pun datang meskipun tidak setiap hari. Siang itu Key mencoba untuk berjalan sendiri tanpa bantuan. Perlahan-lahan Key pun turun dari ranjangnya. Dicobanya untulk berdiri tegak. Lalu, setelah yakin kakinya cukup kuat dia pun mulai mencoba untuk melangkah. Langkah pertama, berhasil. Meskipun agak gemetar. Kedua, ketiga, dan keempat lancar. Key tersenyum senang. Dicobanya untuk mempercepat langkahnya. Tapi olalaaa… kakinya mulai lelah dan teras lemas. Hampir saja Key jatuh kalau saja Raka yang baru saja datang tidak menahannya dari belakang.
“Untung loe datang, Ka. Makasih, ya.”
“Sama-sama, Key. Mau kemana loe, Key? Mau kabur ya dari rumah gue?”
“Mana bisa gue kabur dengan kaki kaya gini. Gue cuma mo keluar ke balkon. Mo liat suasana diluar dari situ.”
“Beneran, jangan-jangan loe mo kabur lewat balkon pake seprai ya?”
“Hahahaha… dasar!!! Kebanyakan nonton sinetron loe ya, kaya ibu-ibu aja. Udah gue bilang, mana bisa gue kabur dengan kaki kaya gini. Loe liat sendiri kan tadi gue hampir jatuh.”
“Enak aja bilangin gue kaya ibu-ibu. Diliat dari tampang loe kayanya sih loe orangnya nekat, jadi wajar aja gue berpikir kaya gitu.”
“Nekat sih nekat, tapi kalo gue ada di tempat yang aman ngapain harus kabur. Loe juga kan yang bilang kalo gue bakalan aman disini.”
“Hehehe.. iye,iye. Abisnya gue khawatir sama loe. Ntar gue dituduh nggak bertanggung jawab atas keselamatan loe disini, bisa digebukin teman-teman loe gue kalo loe sampe hilang.”
Key cuma nyengir mendengarnya.
“Oh iya, jadi nggak?” Tanya Raka.
“Jadi apanya sih?”
“Kata loe tadi mau liat suasana diluar di balkon. Sini gue temenin.”
“Oh iya, ayo.”
Key pun dituntun Raka menuju balkon.
“Wah.. segarnya udara diluar...!!! Teriak Key.
“Iya dong seger, coz di komplek sini kan terkenal punya halaman yang indah dan asri, sehingga membuat suasana disini segar dan sedap dipandang mata.”
“Key menggangguk-angguk mendengar penjelasan Raka.
“Oh iya, biasanya juga suka ya nyantai di balkon kaya gini?”
“Suka banget lah! Di sebelah kamar ini kamar gue lho, tuh liat! Biasanya gue selalu duduk di kursi itu.” Kata Raka sambil menunjuk sebuah kursi malas yang terletak di balkon kamar sebelah yang ternyata adalah kamarnya.
Key melihat ke arah tempat yang ditunjukkan oleh Raka. Tiba-tiba muncul bayangan sepasang anak cowok dan cewek yang sedang melihat bintang menggunakan teleskop dalam pikirannya. Mereka tertawa dan saling berkejar-kejaran. Lalu si anak cewek terdorong oleh si anak cowok. Dan jatuh kebawah dari lantai dua ke kolam renang yang berada tepat di bawahnya. Kakinya terbentur tangga kolam. Dan orang-orang tua berlari ke arahnya. Tiba-tiba Key merasa sangat pusing. Pusing sekali hingga dia terduduk sambil memegangi kepalanya.
“Key! Loe kenapa Key?” Tanya Raka panik.
“Ba..bawa gu..gue masuk, Ka..” Kata Key terbata-bata setelah itu dia pingsan.
Tanpa pikir panjang Raka pun menggendong Key dan membawanya masuk kembali ke kamar.
“Key! Bangun Key! Loe kenapa? Kata Raka sambil menggoncang-goncangkan tubuh Key.
Mendengar keributan itu mama Raka datang.
“Kenapa, Ka?”
“Raka nggak tau, Ma. Tiba-tiba aja dia pusing terus pingsan. Cepat, Ma telpon dokter, suruh cepat kesini!”
Iya, iya. Mama akan segera telpon.” Kata mama Raka sambil berlari keluar kamar.
###
“Gimana Tante keadaan, Key?” Tanya Bas yang baru saja datang setelah di telepon oleh mama Raka.
“Dia sekarang sedang di kamarnya. Tadi dia tiba-tiba pusing dan pingsan,Bas. Kami terpaksa membawa dia kembali ke rumah sakit. Ini juga atas intruksi dokter.”
“Apa kata dokter, Tan?”
“Menurut pemeriksaan dokter dan hasil rontgen, sepertinya pernah terjadi sesuatu dengan sistem ingatan Key. Apakah dia pernah amnesia sebelumnya?”
Bas tampak ragu untuk menjawab.
“Bas?” Tegur mama Raka.
“Eh, iya Tante. Tapi saya mohon, rahasiakan hal ini dari Key. Saya mohon.”
“Kenapa harus dirahasiakan, Bas?”
“Karena sebenarnya Key bukan adik saya Tante. Saya tidak ingin kehilangan dia Tante. Dia sudah seperti ade kandung saya sendiri.”
“Maksud kamu?”
“Dulu dia ditemukan oleh mama saat kami sedang berlibur di sebuah pantai. Seorang gadis dengan tubuh penuh luka yang terdampar di pinggir pantai tak berdaya. Setelah diperiksa ternyata nadinya masih berdenyut. Kami pun segera melarikannya ke rumah sakit terdekat. Dan syukur lah dia selamat, meskipun dia di vonis oleh dokter amnesia. Karena kasihan kami sepakat untuk menjadikannya salah satu dari keluarga kami dan mengaku sebagai keluarganya sampai sekarang.”
“Jadi, dia bener-bener bukan keluarga kamu? Jadi, Key itu bukan nama aslinya?”
“Iya, Tan. Itu nama pemberian dari mama. Nama itu memang sudah dipersiapkannya sebelum saya lahir karena dia berharap mempunyai anak perempuan. Tapi ternyata saya yang lahir dan tidak berapa lama setelah kelahiran saya papa meninggal. Sejak saat itu mama memutuskan untuk tidak menikah lagi dan membesarkan saya seoarang diri sampai kami akhirnya menemukan Key. Saya masih ingat betapa bahagianya mama bersama Key. Dia menganggap Key adalah anak yang dikirimkan Tuhan untuknya. Yang merupakan jawaban atas do’anya selama ini.”
“Sepertinya, Tante harus ketemu sama mama kamu, Bas.”
“Untuk apa Tante?”
“Ada sesuatu yang pengen Tante omongin.”
“Tapi, mama belum tahu tentang hal ini Tante.”
“Apa!! Kenapa tidak kamu kasih tahu, Bas?”
“Terpaksa, Tante. Mama hipertensi, saya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seandainya dia tahu tentang hal ini.”
“O.K. Kalo gitu biar Tante yang kasih tahu dengan cara Tante, gimana?”
Sesaat Bas tampak ragu.
“Gimana, Bas?”
“O.K. deh Tante.”
“Oh iya, sekarang mama kamu dimana?”
“Mama sekarang di Jakarta. Dia di rumah.”
“Kalau begitu coba kamu telepon dia suruh kesini. Bilang ada orang yang mau booking band kalian buat tampil. Dia mau diskusiin sama manajernya langsung. Suruh aja langsung ke rumah Tante.”
“Baik, Tan.” Bas pun segera menelepon mamanya.
“Gimana Bas?”
“Sip Tante, mama bersedia kesini, tapi besok katanya.”
“Ya udah, kamu tenang aja. Biar Tante yang urus semuanya.”
“Makasih ya, Tan.”
“Iya, Sama-sama.”
Mereka pun meninggalkan tempat itu tanpa menyadari sepasang mata yang sedari memperhatikan mereka sedang tersenyum senang sambil menatap kepergian mereka.




0 komentar:
Post a Comment
^_^