Akhirnya kesampaian juga pengen
posting tentang kegiatanku seminggu yang lalu… ^_^
To the point aja, lebih dari
seminggu di ibukota di tiba-tiba membuatku menginginkan sebuah kamera layaknya
seorang photografer. Ya, Itu semua karena menurutku adalah hal yang sangat menyenangkan
apabila apa saja yang kulihat bisa diceritakan melalui sebuah foto. Lagipula
selama ini banyak moment bagus yang terlewatkan karena terlalu ‘indah’ untuk difoto
dengan kamera ponsel butut kesayanganku yang hanya 2.0 megapixel itu. Tapi ya
sudahlah, masih ada kok moment-moment lain yang bisa kujadikan objek kalau
nantinya barang itu sudah kumiliki. Dunia ini kan luas. Mencari keindahan tak
perlu di tempat yang menurut kebanyakan orang indah. Apalagi yang kucari ini bukanlah keindahan semata.
Tapi sesuatu yang ‘berarti’ dan itu bisa kutemukan dimana saja, tak terkecuali
hanya beberapa jengkal di dekatku.
Emm… ngomong-ngomong tentang foto yang
tadinya ingin kuceritakan kalau saja aku bisa memotretnya, mungkin salah
satunya yang akan menjadi favoritku adalah seorang pengemis wanita tua yang
duduk tepat menutupi lambang sebuah papan nama salah satu gedung kokoh
pemerintahan. Bahkan bisa dikatakan lambang tersebut seperti tergantikan oleh
tubuh kurusnya yang ringkih. Tanpa suara, hanya raga. Tapi moment itu adalah
sebuah cerita nyata. Mengandung banyak arti bagi siapa saja yang melihatnya.
Selain itu aku juga ingin sekali
mengabadikan foto ekspresi tersiksa yang tertahan karena phobia eskalatorku
yang menyebalkan dan tak kunjung hilang-hilang meskipun aku sudah 18 tahun
sekarang. Padahal aku tidak punya trauma, tapi tak taulah. Bayangkan saja,
setiap kali aku melihat dan menginjakkan kakiku disitu, selalu saja aku merasa
bahwa nyawaku sedang terancam. Berlebihan memang, tapi kalau kalian juga punya
phobia mungkin kalian akan mengerti rasanya. Masih untung aku berani
melewatinya.
Lalu tentang perjalanan bersama
teman-teman, keseruan di berbagai tempat, tatanan dan pola kehidupan masyarakat
disana dan masih banyak lagi. Tapi, semenarik apapun kehidupan perkotaan tak
akan pernah merubah pandanganku terhadapnya. Aku masih lebih menyukai pedesaan
meskipun sekarang aku tinggal di kabupaten. Tempat dimana aku bisa menghirup
nafas dalam-dalam tanpa kkhawatir akan apapun. Alasan yang sederhana memang,
tapi bagiku tak sesederhana kelihatannya. ^_^




0 komentar:
Post a Comment
^_^