Welcome to Defrez's blog, hope you enjoy reading here^^ Abis baca tolong tinggalin jejak dan... ::Jangan lupa mampir lagi yaa... ^_^::
RSS

Monday, April 30, 2012

Ahaaa




Akhirnya kesampaian juga pengen posting tentang kegiatanku seminggu yang lalu… ^_^
To the point aja, lebih dari seminggu di ibukota di tiba-tiba membuatku menginginkan sebuah kamera layaknya seorang photografer. Ya, Itu semua karena menurutku adalah hal yang sangat menyenangkan apabila apa saja yang kulihat bisa diceritakan melalui sebuah foto. Lagipula selama ini banyak moment bagus yang terlewatkan karena terlalu ‘indah’ untuk difoto dengan kamera ponsel butut kesayanganku yang hanya 2.0 megapixel itu. Tapi ya sudahlah, masih ada kok moment-moment lain yang bisa kujadikan objek kalau nantinya barang itu sudah kumiliki. Dunia ini kan luas. Mencari keindahan tak perlu di tempat yang menurut kebanyakan orang indah. Apalagi yang kucari ini bukanlah keindahan semata. Tapi sesuatu yang ‘berarti’ dan itu bisa kutemukan dimana saja, tak terkecuali hanya beberapa jengkal di dekatku.
Emm… ngomong-ngomong tentang foto yang tadinya ingin kuceritakan kalau saja aku bisa memotretnya, mungkin salah satunya yang akan menjadi favoritku adalah seorang pengemis wanita tua yang duduk tepat menutupi lambang sebuah papan nama salah satu gedung kokoh pemerintahan. Bahkan bisa dikatakan lambang tersebut seperti tergantikan oleh tubuh kurusnya yang ringkih. Tanpa suara, hanya raga. Tapi moment itu adalah sebuah cerita nyata. Mengandung banyak arti bagi siapa saja yang melihatnya.
Selain itu aku juga ingin sekali mengabadikan foto ekspresi tersiksa yang tertahan karena phobia eskalatorku yang menyebalkan dan tak kunjung hilang-hilang meskipun aku sudah 18 tahun sekarang. Padahal aku tidak punya trauma, tapi tak taulah. Bayangkan saja, setiap kali aku melihat dan menginjakkan kakiku disitu, selalu saja aku merasa bahwa nyawaku sedang terancam. Berlebihan memang, tapi kalau kalian juga punya phobia mungkin kalian akan mengerti rasanya. Masih untung aku berani melewatinya.
Lalu tentang perjalanan bersama teman-teman, keseruan di berbagai tempat, tatanan dan pola kehidupan masyarakat disana dan masih banyak lagi. Tapi, semenarik apapun kehidupan perkotaan tak akan pernah merubah pandanganku terhadapnya. Aku masih lebih menyukai pedesaan meskipun sekarang aku tinggal di kabupaten. Tempat dimana aku bisa menghirup nafas dalam-dalam tanpa kkhawatir akan apapun. Alasan yang sederhana memang, tapi bagiku tak sesederhana kelihatannya. ^_^

Sunday, April 15, 2012

Rumah


Rumah itu indah
Penuh senyuman, penuh kebahagiaan…

Rumah itu indah
Penuh kasih, penuh sayang…

Rumah itu indah…

Tapi kini semua hilang
Rumah itu telah tua…

Rumah itu tua
Telah kusam, telah lapuk…

Rumah itu tua
Telah sunyi, telah sepi…

Rumah itu tua

Meninggalkan kenangan yang takkan pernah kembali

Saturday, April 14, 2012

I'm still here

Aku masih disini
Menyongsong terbitnya mentari
Agar ku dapat melihatnya
Di atas sana, diantara awan yang berarak

Aku masih disini
Menunggu mentari terbenam
Agar ku dapat melihat bulan
Di atas sana, diantara bintang-bintang

Aku masih disini
Tetap disini
Dan selalu masih disini

Tak perduli akan apapun
Tetap tak perduli
Dan tak kan pernah peduli

Aku masih disini

Thursday, April 12, 2012

Kenapa Sayur Bayam Tidak boleh Dipanaskan?

Pernah nonton kartun Popeye khan...??? Itu loh... kisah tentang seorang pelaut yang langsung berubah jadi super duper kuat setelah makan bayam (Spinach). Nah kali ini saya mau ngebahas tentang "Kenapa sayur bayam nggak boleh dipanaskan?". Bingung kan, terkadang pas masak sayur bayam satu panci gede di rumah, eh orang-orang rumah udah pada makan diluar. Mau dimakan sendiri, perut mana cukup. Mau dibuang sayang. Otomatis kalo udah dingin kan kurang enak, tapi pas mau dipanaskan, eh ada yang ngelarang. Lho? Kenapa? Mau tahu? Ini dia alasannya.....

a. Bayam mengandung zat besi yang berupa Fe2+ (ferro)
Kalau terlalu lama kontak dengan O2 (oksigen dari udara), Fe2+ akan teroksidasi menjadi Fe3+ (ferri). Meski sama-sama zat besi, yang berguna bagi kita adalah ferro. Sedangkan ferri bersifat toxid pada bayam. Jadi, kalau bayam dipanasi, akan berlaku oksidasi tersebut.

b. Jangan pernah mengonsumsi bayam lebih dari 5 jam
Soalnya, selain mengandung zat yg disebutin tadi itu, bayam juga mengandung zat Nitrat (NO3). Kalau teroksidasi oleh udara, maka akan menjadi NO2 (nitrit). Nitrit adalah senyawa yang tidak berwarna, tidak berbau, dan bersifat racun bagi tubuh manusia.

Menurut John S Wishnok, bayam segar yang baru dicabut dari persemaiannya telah mengandung senyawa nitrit kira-kira sebanyak 5 mg/kg. Bila bayam disimpan di lemari es selama 2 minggu, kadar nitrit akan meningkat sampai 300 mg/kg. Dengan kata lain, dalam 1 hari penyimpanan, senyawa nitrit akan meningkat 21 mg/kg (7%).

Efek toksik (meracuni tubuh) yang ditimbulkan oleh Nitrit bermula dari reaksi oksidasi Nitrit dengan zat besi dalam sel darah merah, tepatnya di dalam Hemoglobin (Hb).

Telah kita ketahui bahwa salah satu tugas hemoglobin adalah mengikat oksigen untuk disalurkan ke seluruh organ tubuh. Ikatan nitrit dengan hemoglobin, disebut Methemoglobin, mengakibatkan hemoglobin tidak mampu mengikat oksigen. Jika jumlah methemoglobin mencapai lebih dari 15% dari total hemoglobin, maka akan terjadi keadaan yang disebut Sianosis, yaitu suatu keadaan dimana seluruh jaringan tubuh manusia kekurangan oksigen. Jika hal ini terjadi pada bayi dikenal dengan nama "Blue Baby".

Efek toksik lainnya adalah kemampuan nitrit bereaksi dengan Amino sekunder dapat membentuk senyawa yang dapat menyebabkan kanker.

c. Jangan masak bayam pake panci alumunium
soalnya bisa bereaksi dengan zat besi yang ada di bayam, dan... jadi racun.

Tips mengkonsumsi bayam : Pilih bayam yang baru dipetik dan masih segar. Hendaknya langsung diolah setelah mendapatkan bayam segar. Jangan terlalu lama disimpan dalam lemari es.

Jadi takut mengonsumsi bayam??

JANGAN...!!!!!!
soalnya, kandungan nutrisinya sangat TOP BGT. Bahkan, bayam disebut sebagai
King of Vegetables. Dan sekarang saatnya gue bilang... "WAW...!!!" :)

Thursday, April 5, 2012

Belenggu Cinta Suamiku (Cerita Sedih)

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

By : Bunda Iin (Blogdetik : Rumah Bunda)

Wednesday, April 4, 2012

Cerita Tentang gelas


Sepasang kakek dan nenek pergi
belanja di sebuah toko souvenir untuk
mencari hadiah buat cucu mereka.
Kemudian mata mereka tertuju kepada
sebuah cangkir yang cantik.
“Lihat cangkir itu,” kata si nenek
kepada suaminya. “Kau benar, inilah
cangkir yang tercantik yang pernah aku
lihat,” ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu,
tiba-tiba cangkir yang dimaksud
berbicara “Terima kasih untuk
perhatiannya, perlu diketahui bahwa
aku dulunya tidak cantik. Sebelum
menjadi cangkir yang dikagumi, aku
hanyalah seonggok tanah liat yang
tidak berguna. Namun suatu hari ada
seorang pengrajin dengan tangan
kotor melempar aku ke sebuah roda
berputar.
Kemudian, ia mulai memutar-mutar
aku hingga aku merasa pusing. Stop!
Stop! Aku berteriak, tetapi orang itu
berkata “belum!” lalu ia mulai
menyodok dan meninjuku berulang-
ulang. Stop! Stop! Teriakku lagi. Tapi
orang ini masih saja meninjuku, tanpa
menghiraukan teriakanku. Bahkan
lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke
dalam perapian.Panas! Panas! Teriakku
dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku
lagi. Tapi orang ini berkata “belum!”
Akhirnya, ia mengangkat aku dari
perapian itu dan membiarkan aku
sampai dingin. Aku pikir, selesailah
penderitaanku. Oh ternyata belum.
Setelah dingin aku diberikan kepada
seorang wanita muda dan ia mulai
mewarnai aku. Asapnya begitu
memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.
Wanita itu berkata “belum!”. Lalu ia
memberikan aku kepada seorang pria
dan ia memasukkan aku lagi ke
perapian yang lebih panas dari
sebelumnya!. Tolong! Hentikan
penyiksaan ini! Sambil menangis aku
berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini
tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus
membakarku. Setelah puas
“menyiksaku”, kini aku dibiarkan
dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang
wanita cantik mengangkatku dan
menempatkanku dekat kaca. Aku
melihat diriku . Aku terkejut sekali. Aku
hampir tidak percaya, karena di
hadapanku berdiri sebuah cangkir
yang begitu cantik. Semua kesakitan
dan penderitaanku yang lalu menjadi
sirna tatkala kulihat diriku.
Renungan:
Seperti inilah Tuhan membentuk kita.
Pada saat Tuhan membentuk kita,
tidaklah menyenangkan, sakit, penuh
penderitaan, dan banyak air mata.
Tetapi inilah satu-satunya cara bagin-
Nya untuk mengubah kita supaya
menjadi cantik dan memancarkan
kemulian-Nya.
“Anggaplah sebagai suatu
kebahagiaan, apabila kamu jatuh
kedalam berbagai pencobaan, sebab
kita tahu bahwa ujian terhadap kita
mengahsilkan ketekunan. Dan
biarkanlah ketekunan itu memperoleh
buah yang matang supaya anda
menjadi sempurna dan utuh tak
kekurangan sesuatu apapun.”
Apabila kita sedang menghadapi ujian
hidup, jangan kecil hati, karena Dia
sedang membentuk kita. Bentukan-
bentukan ini memang menyakitkan
tetapi setelah semua proses itu selesai,
kita akam melihat betapa indahnya
Tuhan membentuk kita.


Made by : I don't know... siapapun yg bikin, thanks... cerita ini bagus sekali :)

Pilihan

::mngkin ini salah satu alasan ssorg mmutuskan utk mnjdi atheis. Mskpun dulu.a dia seorang yg taat. Saat dia harus mnrima bhwa smkn taat mka smkn byak ujian yg datang.
Tapi dia tetap manusia, hatinya ttp sgumpal daging yg lemah. Ktbahan hnyalah sampul, sdgkan isi.a siapa yg tahu.
Disaat ssorg smkin mrsa trpuruk oleh cobaan. trkdang logika.a smkin liar. Dan yg skrg trjdi adalah muncul.a sbuah prtanyaan, "dmna prtolongan Tuhan??"."Kalau memang ini ktentuan, knpa trlalu sulit? terlalu sedih?".W5+H1 Tuhan???????? pertanyaan yg tak pantas dilontarkan utk Tuhan itu pun keluar. Hingga 1 hal ya membuat atheis tak menjadi pilihan yaitu awal penciptaan pun dilampaui dengan paksa. Padahal itu adalah hal yg tak bisa diganggu gugat dengat alasan apapun::

Tp kenapa harus mengikuti pilihan setan? bukankah Tuhan masih memberi pilihan lain??? :)

Monday, April 2, 2012

Memulai Kebajikan Walaupun Kecil

Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati angin laut yang segar menerpa bibir pantai. Di kejauhan dilihatnya seorang anak sedang memungut bintang laut dan melemparkannya kembali ke dalam air.

Setelah mendekati anak itu, lelaki tua itu bertanya heran, “Mengapa engkau mengumpulkan dan melemparkan kembali bintang laut itu ke dalam air?”

“Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi datang menyengat, bintang laut yang terdampar itu akan segera mati kekeringan, “Jawab si kecil itu.

“Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya,” Kata lelaki tua itu sambil menunjukkan jarinya yang mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu. “Lagi pula ada jutaan bintang laut yang terdampar. Aku ragu apakah usahamu itu sungguh mempunyai arti yang besar,” Lanjutnya penuh ragu.

Anak itu lama memandang bintang laut yang ada di tangannya tanpa berkata sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan hidup.

kemudian dengan tersenyum pada lelaki tua itu, ia berkata “Aku membuat perubahan untuk satu hal. Satu Tindakan Sebuah kebaikan yang sederhana dapat membuat sebuah perubahan untuk keluargamu, temanmu, bahkan untuk wajah wajah asing yang kadang tidak kita kenal”. Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar sekurang-kurangnya bagi yang satu ini.” Kata si kecil itu.

Pesan Moral : kadang kadang, kita selalu merasa tidak bisa berbuat apa apa seperti layaknya anak kecil itu, namun walaupun itu cuma tindakan kebaikan sederhana, tapi membuat begitu banyak perbedaan untuk Bintang laut itu sendiri

Ketika anda memberikan sedikit senyuman untuk orang lain, baik itu keluarga anda, teman anda ataupun orang asing yang anda temui, anda telah membuat perbedaan besar bagi mereka.

Tindakan kecil yang sederhana dapat membuat perbedaan besar kepada seseorang yang sedang membutuhkan. Menyelamatkan Bintang laut adalah sedikit aksi yang membuktikan kebenaran itu

Kita sering mendambakan untuk melakukan sesuatu yang besar, namun sering kali kita lupa bahwa yang besar itu sering dimulai dengan sesuatu yang kecil. Mulailah berbuat kebajikan pada hal-hal kecil, maka engkau akan diberkati dalam hal-hal besar.

Taken from : BERITAUNIK.net

Test Konsentrasi

PERSYARATAN!:
1. Jawaban Harus spontan dan secepatnya , jangan terlalu lama berpikir!
2. baca satu demi satu dengan cepat!
3. Konsentrasi..... dan langsung Jawab!
4. Harus jujur jawabannya, supaya kamu tahu kemampuan konsentrasi kamu.

Dan berikut di bawah ini pertanyaanya.
Selamat melakukan tes konsentrai.

Pertanyaan 1
1. Kertas HVS warnanya apa ?
2. Awan warnanya apa ?
3. Tissu warnanya apa ?
4. Sapi minum apa ?




*Yang ngejawab susu konsentrasi anda terganggu, karena sapi kan minum air.


Pertanyaan 2
1. Rambut kamu warna apa ?
2. Tulisan ini warnanya apa ?
3. Aspal warnanya apa ?
4. kelelawar tidurnya kapan ?




*Yang menjawab Kelelawar tidurnya malam, artinya konsentrasinya tergganggu. karena kelalawar kan tidurnya siang hari.


Pertanyaan 3
1. Warna cendol apa ?
2. Daun kelapa warnanya apa ?
3. Warna umum daun ?
4. Macan makan apa ?





*Yang jawab rumput/daun, jelas itu salah, kecuali macan yang vegetarian yaa. Tapi secara umum macan kan makan daging. pasti pada ke jebak hihihii...



Kalau kamu berhasil dengan ketiga pertanyaan di atas, coba jawab pertanyaan terakhir berikut.

Pertanyaan terakhir.
Berapa jumlah titik bulat hitam pada gambar di bawah ini ?