^_^
Pagi itu seperti hari-hari sebelumnya
aku hanya bisa duduk termenung di atas tempat tidur. Di kamar bercat putih
inilah aku menghabiskan waktuku selama sepekan ini sejak kepulanganku dari
rumah sakit. Entah kenapa sampai hari ini aku masih saja merasa sakit. Meskipun
secara medis aku telah dinyatakan sehat,
tapi jauh di lubuk hatiku yang terdalam ada rasa yang teramat sakit dan tak
bisa kugambarkan.
Kecelakaan mobil yang kualami beberapa
bulan yang lalu bukan hanya telah mengambil kedua tanganku yang terpaksa harus
diamputasi dan membuatku tuli karena pecahnya gendang telingaku. Tapi
akibat shock yang berlebihan membuat aku tak mampu lagi untuk bersuara.
Teman-temanku yang dulu selalu ada di sampingku pun, sekarang tak tahu entah
kemana. Bahkan saat aku masih dirumah sakit pun mereka hanya pernah sekali
menjengukku. Itu pun cuma sebentar ,
setelah itu mereka pun langsung pulang dan tak pernah lagi kelihatan batang
hidungnya hingga sekarang. Gadis-gadis yang dulunya selalu mengejar-ngejarku
pun sama. Ayah dan ibu pun sudah kembali ke London untuk mengurusi bisnis
mereka sehari setelah aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Begitu pula
dengan Nadine, kakak perempuanku itu pun baru saja pergi tadi pagi untuk
kembali ke Singapore setelah mengurusi apa saja yang kuperlukan untuk
mempermudah kondisi “terbaru”ku ini. Dia memilih untuk tinggal disana bersama
Hilbert, suaminya yang berkebangsaan Amerika itu sambil mengurus usaha mereka
sejak menikah 3 tahun yang lalu. Hanya Mbok Yah lah yang selalu ada
disampingku. Seorang wanita paruh baya yang merupakan pengasuhku sejak aku
masih bayi. Dialah yang selama ini selalu mengurusi semua keperluanku. Bahkan
dia lebih tahu apa yang aku suka dan tidak suka dibanding orangtuaku yang
memang super sibuk itu! Tadinya kukira dengan keadaanku yang sekarang akan
membuat mereka lebih memperhatikanku saat aku melihat mereka semua ada
disekelilingku saat aku baru sadar dari koma di rumah sakit. Ternyata tidak,
bahkan kelihatannya akan lebih parah dari sebelumnya. “Kenapa aku tidak mati
saja ya saat kecelakaan itu..?”
*****
Meskipun masih tak bersemangat, tapi
hari ini kuputuskan untuk menuruti ajakan Mbok Yah. Dia ingin mengajakku
jalan-jalan ke taman yang berada tak jauh dari rumahku seperti apa yang dia
tuliskan di kertas untuk menyampaikan maksudnya padaku. Di kertas itu dia juga
menulis bahwa dia tak tahan melihatku yang setiap hari hanya bersedih dan
berdiam diri terus dikamar, hal itu membuatnya jadi ikut bersedih. Aku jadi
terharu bercampur senang membaca tulisannya. Tak kusangka Mbok Yah begitu
menyayangiku, sampai-sampai dia pun ikut merasakan kesedihanku. Dan
ternyata dia juga sudah bisa menulis dengan baik sekarang. Akulah yang dulu
mengajarkannya membaca dan menulis saat aku masih kelas 3 SMP. Meskipun aku tak
mengajarinya sampai mahir, tapi ternyata dia masih tetap belajar. Dalam hati
aku merasa bangga dengan Mbok Yah. Lagipula jalan menuju taman memang sepi,
jadi aku tidak perlu khawatir ada yang melihatku. Jujur, aku malu dengan
kondisiku sekarang.
*****
Di taman pun tidak ada yang istimewa,
aku hanya merasa lebih baik saat merasakan angin yang berhembus lembut menyapa
kulitku. Selebihnya tidak ada. Kalau saja aku bisa mendengar, mungkin saat ini
aku akan mendengar kicauan burung-burung yang merdu bersahut-sahutan dan
gemerisik dedaunan yang terkena hembusan angin seperti dulu. Tapi tak apalah,
setidaknya aku merasa lebih baik walaupun sedikit. Jadi, usaha Mbok Yah
membawaku kesini tidak sia-sia.
*****
Tiba-tiba aku merasakan ada yang menepuk
bahuku dari belakang. Spontan aku pun menoleh kebelakang dan tampak olehku
seorang gadis sedang menatap kearahku dengan kesal. Kulihat dia seperti
mengatakan sesuatu. Tapi apa daya, aku sama sekali tak bisa mendengarnya. Aku
hanya bisa berharap Mbok Yah segera datang. “Kenapa Mbok Yah lama sekali ya? Padahal
tadi dia cuma pamit meninggalkanku untuk buang air kecil” Batinku sambil
menatap gadis itu dengan cemas.
*****
Akhirnya, setelah cukup lama menunggu, Mbok
Yah pun datang dengan tergopoh-gopoh dan gadis itu pun kini berbicara padanya.
Aku hanya bisa menebak-nebak, mungkin Mbok Yah sedang menjelaskan tentang
kondisiku pada gadis itu. Tak lama kemudian gadis itu pun menghadap ke arahku dengan
tatapan iba. Tatapan yang sangat kubenci karena sejak dulu aku memang tidak
suka dikasihani. Tapi apa mau dikata, keadaanku sekarang lah yang membuatku
pantas untuk menerima tatapan itu. Dia lalu mengambil buku dan pulpen dari Mbok
Yah, menuliskan sesuatu dan memperlihatkannya padaku. Aku pun segera membaca
isinya.
Maafin aku ya udah marah-marah,,
Aku nggak tahu kalo kamu nggak
bisa dengerin aku..
Maaf ya ^_^
Sesaat aku melihat kearahnya sebelum akhirnya aku pun mengangguk
sambil tersenyum. Kulihat ada raut kelegaan tampak diwajahnya. Dan dia pun
tersenyum manis kepadaku. Senyum yang entah kenapa terlihat begitu tulus. Belum
pernah aku melihat senyum seperti itu sebelumnya. Sekalipun dari teman-teman
dan gadis-gadis yang selama ini selalu memujaku karena ketampanan, kekayaan,
dan kepopuleranku itu. Huh.. mengingat mereka membuatku jadi ingin marah saja.
Kemudian gadis itu pun kembali
menuliskan sesuatu di buku itu, kali ini dia memperkenalkan namanya padaku.
Dari situlah aku tahu bahwa gadis itu bernama Melody. Tapi sayangnya,
perkenalan itu pun tak berlangsung lama. Gadis itu pun pergi setelah sebelumnya
berpamitan pada Mbok Yah dan dari tatapannya mungkin dia juga berpamitan
padaku.
*****